Tanggung Jawab di Balik Pintu Perlintasan Kereta Api

  • 02 Apr 2026 07:23 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Nabil tanggung jawab swbagai penjaga ppalang pintu Kereta Api
  • Bagi Nabil, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan amanah besar
  • Di satu sisi ada kebutuhan mendesak, di sisi lain ada risiko besar jika aturan dilanggar
  • Tanggung jawab utamanya jelas: memastikan pintu perlintasan tertutup sempurna sebelum kereta melintas dan tidak ada satu pun pengendara yang nekat menerobos.

RRI.CO.ID, Lebak - Di tengah hiruk pikuk perlintasan kereta api Bang Arum, Rangkasbitung, sosok Muhamad Fahmi Nabil berdiri tegak menjalankan tugasnya. Pria 25 tahun asal Kabupaten Pandeglang ini telah dua tahun menjadi petugas palang pintu rel kereta api, pekerjaan yang menuntut ketelitian, keberanian, dan tanggung jawab besar.

Setiap hari, Nabil bekerja dalam sistem tiga shift. Ia tinggal di mess PT KAI di Rangkasbitung, sehingga hidupnya nyaris tak jauh dari rel dan deru kereta yang melintas. Dalam sehari semalam, sekitar 140 perjalanan kereta melintasi perlintasan yang ia jaga, belum termasuk kereta tambahan yang tidak terjadwal.

Berbeda dengan perlintasan modern, pintu Bang Arum belum dilengkapi sensor otomatis. Semua dilakukan secara manual, mengandalkan jadwal perjalanan kereta yang sudah tersusun. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana. “Kadang kereta datang tepat waktu, tapi sering juga telat. Jadi kami harus benar-benar waspada dan tidak boleh lengah,” ujar Nabil, Rabu, 1 April 2026.

Tanggung jawab utamanya jelas: memastikan pintu perlintasan tertutup sempurna sebelum kereta melintas dan tidak ada satu pun pengendara yang nekat menerobos. Namun, tantangan terbesar justru datang dari pengguna jalan itu sendiri. Menurut Nabil, masih banyak pengendara yang tidak patuh. Meski palang pintu sudah tertutup, tak sedikit yang memaksa membuka dan tetap melintas.

“Sudah jelas ditutup, sudah diperingatkan, tapi masih ada yang nekat. Padahal kereta sudah dekat, itu sangat berbahaya,” katanya.

Situasi seperti ini kerap memicu emosi di lapangan. Tidak jarang Nabil harus menghadapi keluhan, bahkan kemarahan dari pengendara yang merasa terburu-buru. Namun, ia tetap teguh pada prosedur yang ada. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika sebuah ambulans dalam kondisi darurat hendak melintas, sementara kereta sudah sangat dekat.

“Waktu itu ada ambulans mau lewat, tapi kereta sudah hampir sampai. Mau tidak mau tetap kami tahan. Keselamatan banyak orang lebih penting,” kata mengisahkan.

Keputusan tersebut bukan hal mudah. Di satu sisi ada kebutuhan mendesak, di sisi lain ada risiko besar jika aturan dilanggar. Di situlah profesionalisme Nabil diuji. Di sela tugasnya, Nabil juga harus pandai mengatur waktu, termasuk untuk beribadah.

Dengan jadwal kereta yang tidak selalu tepat waktu, ia kerap harus mencari celah agar tetap bisa menjalankan kewajibannya, meski tak jarang harus sedikit mundur dari waktu ideal.

Bagi Nabil, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan amanah besar. Ia sadar, setiap keputusan yang diambil bisa berdampak pada keselamatan banyak orang. “Setiap pekerjaan pasti ada risikonya. Yang penting kita jalankan dengan penuh tanggung jawab, karena ini menyangkut keselamatan orang banyak,” ujarnya.

Meski sering menghadapi situasi sulit dan tekanan dari masyarakat, Nabil tetap berpegang pada mottonya: bekerja sebaik mungkin demi keselamatan semua pengguna jalan.

Di balik palang pintu yang sering dianggap sepele, ada sosok seperti Nabil yang setiap hari mempertaruhkan fokus dan tanggung jawabnya. Ia mungkin tak selalu terlihat, namun perannya sangat vital dalam menjaga nyawa banyak orang di perlintasan rel kereta api.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....