Ramadan Kelabu di Balik Puing Pasar Baru Labuan

  • 24 Feb 2026 12:43 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Lantunan doa dan persiapan santap berbuka puasa yang biasanya penuh sukacita kini berubah menjadi duka mendalam bagi para pedagang di Pasar Baru Labuan, Pandeglang. Kebakaran hebat yang melanda pusat ekonomi rakyat ini menyisakan puing-puing hitam dan gumpalan asap yang masih terasa menyesakkan dada.

Di tengah bulan suci, puluhan pedagang harus menelan pil pahit kehilangan tempat mencari nafkah yang telah mereka huni selama puluhan tahun. Ketabahan tampak jelas pada raut wajah Eri, seorang perantau asal Padang yang sudah 35 tahun menggantungkan hidup di Pasar Baru Labuan.

Pedagang bumbu giling ini hanya bisa terpaku melihat kiosnya rata dengan tanah tanpa ada satu pun barang berharga yang bisa diselamatkan dari kobaran api. Larangan petugas untuk masuk ke area kebakaran demi keselamatan nyawa membuat Eri harus merelakan seluruh modal usahanya habis dilalap si jago merah.

Duka Eri semakin terasa menyesakkan mengingat dirinya baru saja menambah stok dagangan senilai 40 juta rupiah untuk menyambut lonjakan permintaan Idulfitri. Tiga mesin penggiling bumbu yang menjadi jantung usahanya pun ikut hangus, termasuk satu mesin baru yang masih tersegel dalam kardus seharga 7 juta rupiah.

Estimasi kerugian yang menyentuh angka lebih dari 100 juta rupiah memaksa ibu ini harus kembali merintis segalanya dari nol. "Badan saya rasanya sudah hilang semua melihat ini, bumbu dan mesin tiga-tiganya habis terbakar. Padahal saya sudah stok banyak untuk persiapan Lebaran, tapi sekarang hanya tersisa puing-puing saja," ujar Eri, Selasa 24 Februari 2026.

Bagi Eri, musibah ini menjadi tantangan batin yang sangat berat karena ia harus membiayai anaknya yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Padang. Setiap bulan, ia wajib mengirimkan uang sebesar 2 juta rupiah di tengah kondisi usahanya yang kini lumpuh total tak bersisa. Meski sedih, ia tetap mencoba tegar menghadapi kenyataan pahit ini sebagai bagian dari perjalanan hidup di tanah rantau.

Eri mengatakan dirinya hanya bisa tabah, meski modal habis dan tempat usaha hancur, semangat untuk kembali berdagang tetap menyala di balik tumpukan abu sisa kebakaran. Ia memandang Ramadan tahun ini akan selalu diingat sebagai momen ujian kesabaran sekaligus titik balik untuk membangun kembali kemandirian ekonomi dari titik terendah.

Kisah pilu serupa dialami oleh Usep, pedagang ayam potong yang juga harus meratapi kiosnya yang hangus terbakar tepat saat stok baru saja tiba satu mobil. Meskipun kerugian materilnya diperkirakan di bawah lima juta rupiah, dampak operasional yang dirasakannya jauh lebih besar karena hilangnya lokasi dagang yang strategis. Ia kini hanya bisa berharap adanya keajaiban dan percepatan dari pengelola agar aktivitas jual beli bisa segera pulih kembali.

"Harapan kami hanya satu, segera dipercepat pembersihan dan perbaikannya karena ini momen menjelang Lebaran. Barang dagangan baru turun satu mobil kemarin, jadi kerugiannya sudah tidak terhitung lagi bagi kami pedagang," kata Usep.

Para pedagang kini merindukan riuh rendah suara pembeli yang biasanya memenuhi pasar setiap pagi menjelang hari raya. Upaya pengelola pasar untuk menyiapkan relokasi sementara di bagian timur dan area parkir menjadi secercah harapan di tengah keputusasaan. Namun, keinginan kuat untuk kembali ke lokasi asal tetap membayangi pikiran para pedagang karena faktor kedekatan dengan pelanggan setia.

Hingga saat ini, para korban kebakaran hanya bisa mengandalkan usaha kecil-kecilan di rumah sambil menunggu kepastian pembersihan lahan dari pihak pengelola. Mereka berharap manajemen pasar tidak membiarkan nasib pedagang terkatung-katung terlalu lama di tengah himpitan ekonomi bulan Ramadan. Keinginan untuk segera bangkit dari keterpurukan menjadi doa utama yang dipanjatkan setiap sujud di malam-malam terakhir bulan puasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....