Perjuangan Tiga Perempuan di Lapak Kue
- 27 Jan 2026 15:25 WIB
- Banten
RRi.CO.ID,Lebak - Jarum jam baru menunjukan pukul enam pagi ketika hiruk pikuk Pasar Rangkasbitung mulai terasa. Pedagang dan pembeli saling bersahutan, menciptakan denyut kehidupan pagi hari. Di salah satu sisi luar pasar, sebuah lapak sederhana kue basah tampak lebih dulu ramai dibanding lapak lainnya.
Lapak itu milik Ibu Siti, perempuan paruh baya yang sejak subuh sudah sibuk menata dagangan. Meja lapaknya tak lebar, namun dipenuhi beragam kue tradisional. Sejumlah ibu-ibu tampak mengelilinginya, mereka adalah para pembuat kue yang menitipkan dagangan untuk dijual di lapak tersebut.
Rutinitas itu telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap pagi, lapak kue basah Ibu Siti menjadi tempat bertemunya para perempuan pejuang ekonomi keluarga. Di sinilah mereka saling menyapa, menitipkan kue, sekaligus berbagi cerita hidup.
Dua di antaranya adalah Ibu Yani dan Ibu Hanifah. Keduanya merupakan ibu rumah tangga yang telah lama menggantungkan harapan dari kue-kue basah buatan tangan mereka. Bakpau mini, bolu kukus, dan putu ayu menjadi sumber nafkah yang terus mereka pertahankan.
Bagi Ibu Yani, membuat kue bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang harus ditempuh sejak suaminya meninggal dunia 20 tahun lalu. Saat itu, anak bungsunya baru berusia tiga tahun. “Sejak suami saya meninggal, saya harus kuat. Anak-anak masih kecil dan butuh makan,” ujar Ibu Yani dengan suara pelan, Selasa 27 Januari 2026.
Setiap hari, Ibu Yani bangun pukul tiga dini hari untuk mulai memproduksi bakpau. Setelah matang, kue-kue itu ia antar ke sejumlah pedagang kue basah di sekitar Kota Rangkasbitung. “Capek pasti, tapi saya sudah terbiasa. Yang penting anak-anak bisa sekolah,” katanya.
Nasib serupa dialami Ibu Hanifah. Ia juga harus menjadi tulang punggung keluarga sejak ditinggal suaminya. Dalam sehari, Hanifah memproduksi putu ayu dan bolu kukus dengan masing-masing bahan sekitar tiga kilogram terigu.
Harga jual kue buatannya terbilang murah, hanya seribu rupiah per buah. Meski keuntungan yang diperoleh sangat tipis, ia memilih tetap bertahan. “Kalau dinaikkan, kasihan pembeli. Yang penting bisa jalan terus,” ucap Hanifah sambil membantu menata kue di lapak Ibu Siti.
Sementara itu, Ibu Siti sebagai pemilik lapak terlihat tak kalah sibuk. Dengan cekatan, ia menyusun martabak telur, onde-onde, lemper, bacang, buras, hingga aneka kue tradisional lainnya. Lapaknya buka sejak pukul enam pagi hingga tiga sore.
Perempuan asli Lampung ini telah lama menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya tidak lagi bekerja. Ia mengaku menjalani profesi sebagai penjual kue basah dengan penuh keikhlasan. “Saya cuma ambil persen sedikit dari kue titipan. Yang penting sama-sama bisa makan,” ujarnya.
Beratapkan langit, lapak Ibu Siti kerap menghadapi tantangan. Saat hujan turun atau pembeli sepi, tak jarang banyak kue tersisa. “Dukanya kalau hujan, kue banyak nggak habis. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pilihan hidup,” kata nenek dua cucu itu.
Namun, ada pula suka yang dirasakannya. Ketika dagangan habis terjual, rasa lelah seolah terbayar. “Kalau kue habis, rasanya senang sekali. Artinya kami semua bisa bawa pulang uang,” ucapnya sambil tersenyum.
Ibu Siti, Ibu Yani, dan Ibu Hanifah adalah potret tiga perempuan perkasa yang bertahan di tengah keterbatasan. Meski kerap menghadapi hari-hari berat, mereka terus berjuang tanpa menyerah, menggantungkan harapan pada lapak kue sederhana di sudut Pasar Rangkasbitung.
Harapan mereka sederhana: dagangan habis terjual dan ada uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di balik kue-kue basah yang tersaji setiap pagi, tersimpan kisah keteguhan dan ketabahan perempuan-perempuan yang tak pernah berhenti berjuang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....