Kelompok Tani Mukti Tani, Pelopor Budidaya Nilam Pandeglang

  • 07 Des 2025 14:29 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Kelompok Tani Mukti Tani di Desa Babakan Karang Anyar, Kecamatan Pandeglang, menunjukkan perkembangan signifikan dalam budidaya Nilam, komoditas minyak atsiri bernilai tinggi yang masih jarang dikembangkan di Provinsi Banten. Sejak awal berdiri kini Kelompok tani Mukti Tani menjadi pionir produksi Nilam di Pandeglang dengan lahan lebih dari tiga hektare.

Ketua Kelompok Tani Mukti Tani, Sumarno, menyebut kelompoknya mulai serius mengembangkan Nilam sejak 2014. Ia bersama petani lain mendorong para petani yang sebelumnya menaman nilam di Lampung untuk menanam nilam di kampung halaman.

“Sekarang yang membudidayakan sekitar tujuh sampai delapan orang dengan luasan produksi satu hektare setengah yang sudah panen dan dua hektare penanaman baru,” katanya, Minggu (7/12/2025).

Baca juga: Kelompok Tani di Pandeglang Kembangkan Minuman Rempah Tradisional

Menurut Sumarno, produktivitas Nilam yang dikelola kelompoknya bisa mencapai 40 ton daun basah atau sekitar 8 ton daun kering per hektare per sekali panen. Dengan rendemen 1,5 hingga 1,8 persen, hasil penyulingan mampu menghasilkan lebih dari satu kilogram minyak dari setiap 100 kilogram daun kering.

Dengar harga jual sekitar Rp700 ribu per kilogram, menurutnya minyak nilam bisa menghasilkan omzet lebih dari Rp500 juta per hektare per tahun tergantung harga pasar.

Namun, tingginya nilai jual berbanding lurus dengan kerumitan budidayanya. Menurut Sumarno, tanaman nilam disebut membutuhkan perawatan intensif serta sangat dipengaruhi cuaca, perlu ada perawatan harian agar tidak kalah oleh rumput liar.

Baca juga: Teknologi Modern Ubah Pola Kerja Petani Pandeglang

Selain itu tantangan air menurutnya kerap muncul saat musim kemarau sehingga beberapa lahan tidak bisa ditanami optimal.

“Sedikit saja dibiarkan, langsung habis sama gulma. Cuaca juga sangat menentukan, apalagi sekarang kemarau panjang. Air sulit, tanaman banyak yang tidak kuat,” ujar Sumarno.

Untuk pemrosesan, Mukti Tani menggunakan teknik distilasi steam dengan kapasitas penyulingan dua kuintal per proses. Hasil minyak nilam mereka telah diuji di Balitro Bogor dan dinyatakan memenuhi standar, termasuk kandungan Patchouli Alcohol (PA) yang menjadi indikator kualitas.

Baca juga: Petani Pandeglang Respons Positif Turunnya Harga Pupuk Subsidi

Selain memanfaatkan minyaknya, kelompok ini juga memanfaatkan limbah penyulingan untuk kompos guna menekan biaya pupuk. Namun produksi kompos tersebut belum dapat diperluas karena ketersediaan bahan baku masih terbatas.

Sebagai pelopor Nilam di Banten, kelompok ini kini menjadi salah satu lokasi Pengembangan Wanawiyata Widyakarya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mekanisme ini menjadikan Mukti Tani sebagai tempat belajar resmi bagi petani dan mahasiswa.

Menurut Sumarno dengan program ini menjadikan tempat penyulimannya sebagai lokasi pelatihan, penelitian, dan praktik lapangan bagi mahasiswa, penyuluh, dan petani dari daerah lain.

“Kami sudah punya legalitas untuk melatih dan mengeluarkan sertifikat. Banyak yang datang, dari penyuluh, mahasiswa, sampai luar negeri,” kata Sumarno. (Ridwan Maulana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....