Kelompok Tani di Pandeglang Kembangkan Minuman Rempah Tradisional

  • 14 Sep 2025 13:42 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Kelompok Tani Sekartani di Desa Saruni, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, menjadi salah satu penggerak inovasi olahan rempah lokal. Berawal dari penangkaran tanaman pada 2009, kelompok ini kini memanfaatkan lahan seluas 13 hektare untuk mengembangkan produk minuman tradisional yang berbahan jahe, kunyit, serai, hingga rempah-rempah lain yang tumbuh subur di wilayah Pandeglang.

Pengelolaan Kelompok Sekartani, Ida Romdonah menjelaskan, ide mengolah rempah menjadi minuman lahir ketika pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Saat itu, kebutuhan masyarakat terhadap minuman herbal untuk menjaga daya tahan tubuh meningkat tajam. Dari situ, lahirlah produk “Lampon Sari”, olahan jahe dan kunyit yang kini menjadi salah satu produk unggulan kelompok ini.

“Awalnya hanya untuk pencegahan di keluarga, tapi ternyata banyak yang suka. Jadi kami kembangkan menjadi minuman tradisional yang rasanya bisa diterima semua kalangan,” ucapnya, Minggu (14/9/2025).

Baca juga: Sekartani Dorong Kemandirian Pangan Lewat Inovasi Sayuran Lokal

Produk minuman rempah Sekartani kini dipasarkan dengan berbagai cara, mulai dari penjualan langsung, bazar nasional maupun internasional, hingga kerja sama dengan pihak buyer yang membawa produk mereka ke luar daerah seperti Jakarta, Bandung, hingga Kalimantan. Bahkan, beberapa pesanan sudah menjangkau pasar ekspor internasional seperti Tiongkok, Turki, Kanada, Amerika, hingga Arab Saudi.

Selain itu demi menjaga standar mutu, Sekartani tidak hanya mengandalkan proses tradisional. Saat ini kelompok ini telah menggunakan mesin modern dalam pengolahan, mulai dari penggilingan hingga pengemasan, agar sesuai dengan standar mutu internasional yaitu Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Hal ini bertujuan agar mempermudah mereka dalam mengurus izin produksi serta sertifikasi produk, khususnya dalam hal ekspor.

“Bahan yang kami gunakan semuanya dari lahan sendiri. Produksinya berbahan alami, tapi mesin yang dipakai sudah modern agar memenuhi standar sertifikasi,” ujar Ida.

Baca juga: Dinas Pertanian Pandeglang Dorong Regenerasi Petani

Ida menambahkan proses produksi minuman rempah ini dilakukan dengan mengolah hasil panen rimpang, seperti jahe, kunyit, dan serai, yang ditanam sendiri oleh kelompoknya. Untuk menjamin kualitas, bahan baku dipanen secara berkala agar menjaga kualitas bahan, selanjutnya hasil panen rempah nantinya akan diolah dengan teknologi mesin sesuai standar mutu pangan.

Ida menambahkan produk minuman tradisional Sekartani memiliki keunikan. Jika jamu identik dengan rasa pahit, Ida justru memodifikasi racikannya agar lebih bisa diterima berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Racikan dibuat berdasarkan hasil bacaan dan pengalaman pribadi, ditambah uji laboratorium serta saran dari sejumlah ahli gizi.

“Saya senang membaca dan belajar dari banyak sumber. Dari situ saya bisa meracik produk hingga diuji laboratorium, dan alhamdulillah hasilnya bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.

Baca juga: Petani Kopi Juhut Ciptakan Desa Eduwisata Mandiri

Meski terus berkembang, menurutnya masih ada tantangan yang dihadapi, terutama terkait modal dan akses pasar modern. Sistem konsinyasi di ritel besar dinilai belum cocok untuk produk mereka karena risiko kerugian akibat rempah yang tidak tahan lama.

Kendala fluktuasi harga juga menjadi tantangan, sehingga Sekartani harus pintar menyiasati pasokan dengan pengolahan pascapanen seperti pengeringan kunyit, maupun jahe. Meski begitu, kelompok ini tetap konsisten melibatkan masyarakat lokal, terutama ibu-ibu berusia lanjut, untuk menggarap lahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga. (Ridwan Maulana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....