Harga Kakao Lebak Tembus Rp60 Ribu Per Kilogram

  • 21 Agt 2026 09:57 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Harga kakao kering di Kabupaten Lebak mencapai Rp60 ribu per kilogram, meningkat tiga kali lipat dari harga sebelumnya yang hanya Rp20 ribu per kilogram.
  • Kenaikan harga terjadi sejalan dengan memasuki musim kemarau panjang yang mengurangi ketersediaan hasil panen kakao di berbagai daerah.
  • Budiman, penampung hasil bumi di Pasar Rangkasbitung, mengkonfirmasi bahwa pasokan kakao kering saat ini dalam kondisi relatif terbatas.

RRI.CO.ID, Lebak - Harga kakao kering di Kabupaten Lebak, kembali mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai Rp60 ribu per kilogram. Harga tersebut melonjak tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram.

Kenaikan harga kakao itu terjadi seiring memasuki musim kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan hasil panen di sejumlah daerah. Budiman, seorang penampung hasil bumi di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengatakan, pasokan kakao kering saat ini relatif terbatas.

"Naiknya harga kakao ini karena memasuki musim kemarau panjang dan di beberapa daerah, termasuk Banten, belum panen," kata Budiman, Kamis, 20 Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat persediaan kakao kering yang masuk ke pasar menjadi lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya. Petani yang menjual kakao kering saat ini juga hanya dalam jumlah relatif kecil, mulai dari sekitar 15 kilogram hingga 200 kilogram. Sebagian besar kakao yang beredar saat ini merupakan stok hasil panen pada Juni 2026 lalu.

"Petani yang menjual sekarang rata-rata membawa stok panen bulan Juni, karena saat ini belum banyak yang panen," ujarnya.

Kondisi pasokan yang terbatas tersebut kemudian mendorong harga kakao kering mengalami peningkatan cukup tajam di tingkat pasar. Kenaikan harga menjadi peluang bagi petani yang masih memiliki persediaan kakao kering dari hasil panen sebelumnya.

Salah seorang petani kakao, Didi, warga Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengaku menjual kakao kering sebanyak 200 kilogram. Dengan harga Rp60 ribu per kilogram, Didi memperoleh pendapatan sebesar Rp12 juta dari penjualan tersebut.

"Saya menjual kakao kering sebanyak 200 kilogram dengan harga Rp60 ribu per kilogram, sehingga mendapatkan Rp12 juta," kata Didi.

Didi menjelaskan, kakao yang dijualnya tersebut merupakan stok hasil panen Juni 2026 yang sebelumnya belum dilepas ke pasar. Saat itu, harga kakao masih berada di sekitar Rp20 ribu per kilogram sehingga dirinya memilih menyimpan sebagian hasil panen.

"Sebetulnya kakao yang saya jual ini stok panen Juni 2026 lalu, karena waktu itu harganya masih Rp20 ribu per kilogram," ujarnya.

Petani lainnya, Samsun (60), warga Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, juga memanfaatkan kenaikan harga kakao untuk menjual persediaannya. Samsun menjual kakao kering sebanyak 100 kilogram dengan harga Rp60 ribu per kilogram. Dari penjualan tersebut, Samsun memperoleh pendapatan sebesar Rp6 juta.

"Saya menjual 100 kilogram kakao kering dengan harga Rp60 ribu per kilogram, jadi mendapatkan Rp6 juta," kata Samsun.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar mengatakan, pemerintah daerah terus mengembangkan komoditas perkebunan kakao di sejumlah wilayah. Pengembangan tanaman kakao tersebut dilakukan dengan cakupan lahan hingga ribuan hektare di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak.

"Kami terus mengembangkan komoditas perkebunan cokelat hingga ribuan hektare di sejumlah kecamatan," kata Rahmat Yuniar.

Ia mengatakan, pengembangan kakao dilakukan karena komoditas tersebut memiliki permintaan pasar yang relatif tinggi dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat. Rahmat berharap pengembangan perkebunan kakao dapat mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga petani sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat Kabupaten Lebak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....