Beroperasi Penuh, Lebak Niaga Perseroda Mampu Produksi 700 Ton Beras
- 13 Jul 2026 14:23 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - PT Lebak Niaga Perseroda terus meningkatkan kapasitas produksinya sejak mulai beroperasi secara efektif pada awal April 2026. Badan usaha milik daerah Kabupaten Lebak tersebut kini mendekati target operasional penuh.
Hingga akhir Juni 2026, perusahaan telah memproduksi hampir 1.000 ton gabah yang kemudian diolah menjadi sekitar 600 hingga 700 ton beras. Direktur PT Lebak Niaga Perseroda, Ilham Akbar, mengatakan peningkatan produksi dilakukan secara bertahap seiring penyempurnaan operasional pabrik. Pada awal April proses produksi belum berjalan maksimal karena seluruh fasilitas masih dalam tahap penyesuaian.
"Produksi Lebak Niaga Perseroda mulai efektif sejak awal April. Namun saat itu belum berjalan 100 persen karena dilakukan secara bertahap," kata Ilham Akbar Senin, 13 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa selama April hingga Juni kapasitas produksi terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. "Dari April, Mei hingga Juni kapasitas produksi terus meningkat, dan sekarang sudah hampir mendekati 100 persen," ujarnya.
Ilham optimistis dalam waktu dekat seluruh lini produksi dapat beroperasi tanpa henti selama 24 jam setiap hari. "Mudah-mudahan pada Juli atau Agustus ini kita sudah bisa beroperasi selama 24 jam," ucapnya. Ia menyebut total produksi gabah hingga akhir Juni telah mencapai sekitar 900 ton lebih.
"Total produksi sampai Juni sudah mendekati 1.000 ton gabah, atau sekitar 900 sekian ton. Dari jumlah itu dihasilkan sekitar 600 sampai 700 ton beras," ujar Ilham. Selain peningkatan produksi, perusahaan juga mencatat perkembangan positif pada sektor pemasaran.
Beras produksi PT Lebak Niaga Perseroda dipasarkan melalui dua merek, yakni Sawarna dan Multatuli. Kedua merek tersebut kini semakin dikenal masyarakat, khususnya di wilayah Rangkasbitung.
"Alhamdulillah, pemasaran beras Lebak Niaga dengan merek Sawarna dan Multatuli sudah menguasai hampir 80 persen pasar beras di Rangkasbitung," katanya.
Ia mengatakan perusahaan saat ini masih memfokuskan distribusi di wilayah Rangkasbitung sebelum memperluas pemasaran ke kecamatan lainnya. Dalam mendukung distribusi, PT Lebak Niaga Perseroda telah menjalin kemitraan dengan Toko Batam yang memiliki enam hingga tujuh outlet.
"Mereka kini menjadi distributor resmi produk-produk beras Lebak Niaga sehingga pemasaran kami semakin luas di Rangkasbitung," ujar Ilham. Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku gabah.
Ilham mengungkapkan sekitar 40 hingga 50 persen gabah yang diolah saat ini masih didatangkan dari luar Kabupaten Lebak. "Kondisinya karena Lebak Niaga mulai beroperasi setelah masa panen raya lewat, sehingga stok gabah di Lebak sudah mulai menipis. Karena itu kami harus melakukan backup dari luar daerah," katanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, perusahaan menargetkan peningkatan penyerapan gabah hasil panen petani lokal pada musim panen raya 2027. "Target kami pada panen raya 2027 adalah meningkatkan serapan gabah lokal. Harapannya ke depan bisa mencapai 100 persen gabah lokal," ucap Ilham.
Ia menilai penggunaan gabah lokal secara penuh akan menekan biaya produksi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui harga beras yang lebih terjangkau. Terkait harga gabah, Ilham menjelaskan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen saat panen raya berada di angka Rp6.500 per kilogram.
Namun setelah panen berakhir, harga di tingkat petani meningkat hingga berkisar Rp6.500 sampai Rp7.000 per kilogram."Persoalannya sekarang bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan gabah yang mulai menipis karena panen raya sudah lewat. Karena itu kami akan memaksimalkan penyerapan gabah lokal pada musim panen mendatang secara bertahap," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....