Paparan Kekerasan dan Radikalisme Digital Ancam Anak
- 21 Jan 2026 12:11 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Ancaman paham kekerasan dan radikalisme di ruang digital terus membayangi anak-anak dan remaja di Provinsi Banten. Perpindahan aktivitas sosial ke dunia maya pascapandemi membuat anak semakin intens berinteraksi melalui gawai, media sosial, gim daring, hingga grup percakapan privat yang rawan dimanfaatkan oleh jaringan ekstremisme.
Kepala Satuan Tugas Wilayah Banten Densus 88 Antiteror Polri, Kombespol Mayndra Eka W mengatakan, pola penyebaran radikalisme kini semakin sulit dideteksi. “Kalau dulu rekrutmen terjadi secara tatap muka dan dalam lingkaran keluarga atau lingkungan dekat, sekarang prosesnya sepenuhnya melalui dunia digital,” ujarnya dalam dialog SANKSI di RRI Pro 1 Banten, Rabu, 21 Januari 2026.
Baca juga: Cegah Radikalisme Remaja Lewat Kegiatan Positif
| Baca juga: Orang Tua Diminta Melek Digital Parenting |
Ia mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir pihaknya menangani sedikitnya enam anak di wilayah Banten yang terpapar paham radikalisme, terorisme, hingga ekstremisme. Paparan tersebut berasal dari berbagai platform digital dan bersifat lintas negara. “Antara perekrut dan yang direkrut tidak pernah saling bertemu, tapi dampaknya sangat nyata,” ujarnya.
Menurut Mayndra, fenomena copycat violence atau peniruan kekerasan menjadi ancaman serius. Anak-anak terpapar konten kekerasan global yang saling terhubung dan saling menginspirasi. “Ada semacam tantangan antar komunitas internasional yang mempromosikan aksi kekerasan, dan ini sangat berbahaya,” ujarnya.
Sementara Ketua Komnas Perlindungan Anak Kabupaten Serang, Kuratu Akyun menilai, kondisi tersebut harus diwaspadai bersama. Ia menyebut anak dan remaja berada pada fase pencarian identitas sehingga mudah terpengaruh. “Anak-anak ini sebenarnya korban. Mereka belum memiliki daya saring yang kuat terhadap konten digital,” ujarnya.
Baca juga: Potensi Radikalisme di Banten Tinggi, Masyarakat Wajib Waspada
Kuratu menegaskan, data dan temuan tersebut menjadi alarm bagi semua pihak. “Ancaman radikalisme digital bukan isu jauh. Ini nyata di sekitar kita dan membutuhkan respons cepat, terintegrasi, serta berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi kunci untuk mencegah meluasnya paparan paham kekerasan dan radikalisme di ruang digital anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....