Orang Tua Diminta Melek Digital Parenting

  • 28 Mei 2026 12:56 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Ketua Komnas Perlindungan Anak Provinsi Banten, Hendry Gunawan, mengingatkan pentingnya digital parenting bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak generasi Z dan Alpha. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat pola pengasuhan harus ikut berubah agar orang tua mampu memahami dunia digital anak.

Ia mengatakan, orang tua saat ini perlu meng-upgrade kemampuan pengasuhan agar komunikasi dengan anak tidak hanya berisi larangan dan kemarahan. “Digital parenting ini dapat secara sederhana dimaknai sebagai model pengasuhan yang perlu dikembangkan orang tua untuk menghadapi anak-anak yang berbeda teknologi,” ujarnya.

Hendry menjelaskan, perbedaan generasi membuat cara komunikasi anak dan orang tua semakin berbeda. Jika generasi sebelumnya lebih banyak berinteraksi langsung di luar rumah, anak-anak saat ini justru lebih banyak beraktivitas di ruang digital melalui media sosial dan permainan daring.

Menurutnya, kondisi itu membuat orang tua harus memahami pola komunikasi baru dengan anak. Ia menilai pendekatan yang terlalu keras justru dapat menciptakan jarak antara orang tua dan anak.

“Bagaimana caranya supaya antara orang tua dengan anak ini frekuensinya bisa sama, jadi kalau berbicara bukan marah-marah tetapi lebih kepada mengajak seperti sahabat,” katanya.

Ia menambahkan, penggunaan gawai sejak usia dini menjadi salah satu penyebab anak sulit lepas dari handphone. Banyak orang tua, kata Hendry, menjadikan gadget sebagai cara praktis menenangkan anak tanpa memahami dampak jangka panjangnya.

Hendry menyarankan agar anak baru diberikan tanggung jawab penuh menggunakan smartphone saat berusia di atas 12 tahun. Selain itu, orang tua juga harus menerapkan batas waktu penggunaan layar atau screen time secara konsisten.

“Kalau anak usia 1 sampai 5 tahun maksimal satu jam. Kalau lebih dari itu, dampaknya bisa sampai kecanduan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, Komnas Perlindungan Anak Banten pernah mendampingi beberapa anak yang mengalami kecanduan gadget hingga menunjukkan perilaku agresif. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menyakiti diri sendiri ketika handphone diambil oleh orang tua.

Selain berdampak pada kesehatan mental, Hendry menilai penggunaan internet tanpa pengawasan juga berpotensi menyeret anak ke lingkungan berbahaya. Ia menyebut anak-anak dapat terpapar konten kekerasan, radikalisme hingga menjadi korban predator seksual melalui media sosial dan permainan daring.

“Ada beberapa anak di Banten yang terindikasi terafiliasi dengan gerakan radikalisme dan pintu masuknya dari game,” ujarnya.

Karena itu, Hendry meminta orang tua membangun komunikasi yang terbuka dengan anak serta menjadi teladan dalam penggunaan gadget. Ia menegaskan, orang tua juga harus mampu mengurangi penggunaan handphone di rumah agar anak tidak merasa diperlakukan berbeda.

Hendry mengatakan Komnas Perlindungan Anak Banten tengah menyusun buku digital parenting yang dapat diakses masyarakat secara gratis. Buku tersebut rencananya akan dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional pada Juli mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....