Superiority Complex, saat Seseorang Merasa Dirinya Paling Unggul

  • 30 Agt 2026 18:37 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu merasa dirinya paling pintar, paling mampu, atau paling unggul dibandingkan orang lain? Sekilas sikap tersebut mungkin terlihat seperti rasa percaya diri, tetapi jika terus muncul dan berlebihan, perilaku itu ternyata dapat berkaitan dengan superiority complex.

Superiority complex menggambarkan pola ketika seseorang memandang dirinya jauh lebih unggul dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Sikap tersebut dapat terlihat dari kebiasaan membanggakan kemampuan, meremehkan orang lain terus membandingkan diri, hingga sulit menerima kritik.

Dalam dunia psikologi, konsep superiority complex berkaitan dengan mekanisme pertahanan terhadap perasaan rendah diri yang muncul dalam diri seseorang. Dengan kata lain, perasaan superior dapat menjadi cara untuk menutupi kekurangan, kegagalan atau keraguan terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Seorang Psikolog asal Kota Serang, Lian menjelaskan, perilaku tersebut dapat dipahami sebagai bentuk kompensasi psikologis ketika seseorang berusaha mempertahankan harga dirinya. "Perasaan paling unggul terkadang menjadi cara seseorang melindungi dirinya dari rasa tidak mampu atau rendah diri yang sulit diterima oleh dirinya sendiri," ujarnya kepada RRI pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut dapat terlihat ketika seseorang terus melebih-lebihkan kemampuan atau pencapaiannya agar tampak lebih berhasil dibandingkan orang lain. Bahkan, ia bisa terus melakukan perbandingan sosial untuk memastikan dirinya tetap merasa lebih tinggi dalam lingkungan pergaulannya

Ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kemampuan lebih unggul, sikap tersebut pun dapat semakin terlihat. Alih-alih mengakui kelebihan orang lain, ia mungkin memilih meremehkan, mencari kekurangan atau menghindari situasi yang membuat kemampuannya dibandingkan.

Selain itu, kesulitan menerima kritik juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang langsung bersikap defensif terhadap masukan. Sebab, kritik atau pendapat berbeda bisa dianggap mengganggu gambaran positif yang selama ini ingin dipertahankan tentang dirinya.

Meski demikian, superiority complex bukan merupakan diagnosis kesehatan mental resmi dan penyebabnya belum dapat dipastikan secara tunggal. Kegagalan berulang, tekanan psikologis, serta pengalaman sejak masa kanak-kanak diduga dapat berperan dalam terbentuknya pola tersebut.

Pola perilaku tersebut dapat berkembang ketika seseorang menggunakan keunggulan yang dibesar-besarkan untuk menutupi pengalaman merasa tidak mampu. Jika berlangsung terus, mekanisme tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang membangun hubungan sosial.

Dampaknya dapat terlihat ketika orang lain mulai menjaga jarak karena merasa tidak dihargai atau terus dibandingkan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyulitkan seseorang membangun relasi yang sehat sekaligus memahami dirinya secara lebih realistis.

Untuk mengatasinya, seseorang perlu mulai mengenali kemampuan dan pencapaiannya secara jujur tanpa membesar-besarkan keunggulan diri sendiri. Menerima kekurangan dan kegagalan juga penting agar harga diri tidak selalu bergantung pada perbandingan dengan orang lain.

Mengakui keberhasilan orang lain juga dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun cara pandang yang lebih sehat. Sebab, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, sehingga kelebihan orang lain tidak harus dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri.

Jika pola perilaku tersebut sulit dikendalikan dan mulai mengganggu hubungan sosial maupun aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu seseorang memahami pola pikir, emosi, dan perilaku yang membuatnya terus membutuhkan pengakuan sebagai pribadi yang paling unggul.

Dengan memahami hal tersebut, seseorang dapat membangun rasa percaya diri tanpa perlu merendahkan atau menyudutkan orang lain. Sebab, percaya diri berarti mampu menghargai diri sendiri sekaligus menghargai kemampuan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....