Membedakan Intuisi Sehat dengan Kecurigaan Berlebihan
- 26 Jul 2026 14:00 WIB
- Banten
Poin Utama
- Intuisi sehat lahir dari fakta dan pengamatan langsung terhadap situasi yang benar-benar terjadi, berbeda dengan kecurigaan berlebihan.
- Kecurigaan berlebihan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman buruk di masa lalu yang kemudian dibawa ke situasi baru tanpa bukti yang cukup.
- Kemampuan membedakan antara intuisi sehat dan kecurigaan berlebihan penting untuk menjaga dan tidak merusak hubungan dengan orang lain.
RRI.CO.ID, Serang - Psikolog Gumilar Wulan Utami mengingatkan masyarakat untuk mampu membedakan antara intuisi sehat dan kecurigaan berlebihan. Menurutnya, keduanya sering kali tampak serupa, padahal memiliki dasar yang berbeda sehingga perlu dipahami agar tidak merusak hubungan dengan orang lain.
Gumilar menjelaskan, intuisi yang sehat lahir dari fakta dan pengamatan terhadap situasi yang benar-benar terjadi. Sebaliknya, kecurigaan berlebihan lebih banyak dipengaruhi pengalaman buruk di masa lalu yang kemudian dibawa ke situasi baru tanpa bukti yang cukup.
"Kalau sumbernya fakta dan ada pola perilakunya itu bisa jadi kehati-hatian. Tapi kalau sumbernya ketakutan masa lalu atau cuma asumsi di kepala, itu namanya kecurigaan," ujar Gumilar, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia mencontohkan, seseorang yang langsung menolak berteman hanya karena orang baru memiliki kemiripan dengan sosok yang pernah menyakitinya di masa lalu, sejatinya sedang dipengaruhi trauma, bukan intuisi. Menurutnya, penilaian seperti itu belum didasarkan pada bukti, melainkan asumsi yang belum tentu benar.
Sebaliknya, intuisi sehat muncul ketika seseorang menemukan tanda-tanda yang memang dapat diamati secara objektif. "Kalau ada orang mengendap-endap, celingak-celinguk, melihat-lihat situasi dengan gerak-gerik mencurigakan, itu bisa jadi intuisi sehat karena kita melihat pola perilakunya. Jadi sumbernya dari fakta-fakta yang terjadi di lapangan," kata Gumilar.
Ia menambahkan, perbedaan lainnya terletak pada respon emosional yang muncul. Intuisi sehat membuat seseorang tetap tenang dan mampu mengambil keputusan dengan lebih aman.
“Sementara itu, kecurigaan berlebihan justru memicu rasa panik, cemas, serta pikiran yang terus berputar tanpa henti," ucapnya.
Menurut Gumilar, rasa curiga sebenarnya merupakan hal yang wajar sebagai bentuk perlindungan diri. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai ketika mulai memengaruhi cara berpikir, perasaan, hingga hubungan sosial.
"Kalau di semua situasi kita curiga, padahal orang-orang lagi baik-baik saja, itu yang tidak sehat. Trust issue muncul di mana-mana, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan pertemanan," kata Gumilar.
Untuk mengurangi kecurigaan yang berlebihan, Gumilar menyarankan agar seseorang menahan asumsi dan berani melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan. Ia menilai banyak konflik terjadi karena seseorang lebih memilih mempercayai isi pikirannya dibanding mencari fakta yang sebenarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....