BPBD Lebak Perkuat Mitigasi Tsunami Pesisir Selatan

  • 12 Jun 2026 13:23 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak terus mengoptimalkan kegiatan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana tsunami di wilayah pesisir selatan guna mengurangi risiko dampak bencana bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga yang tinggal di kawasan rawan tsunami akibat aktivitas tektonik di Samudra Hindia.

Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta , mengatakan pihaknya saat ini gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk kalangan pelajar. "Kami melaksanakan sosialisasi dan edukasi mitigasi tsunami di wilayah Bayah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini," kata Sukanta di Rangkasbitung, Jum'at, 12 Juni 2026.

Wilayah pesisir selatan Kabupaten Lebak memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap ancaman tsunami. Hal itu disebabkan adanya pertemuan atau tumbukan lempeng tektonik di kawasan Samudra Hindia antara lempeng Australia dan Benua Asia.n

Beberapa kecamatan yang masuk dalam zona rawan tsunami meliputi Bayah, Cilograng, Panggarangan, Malingping, Cihara, dan Wanasalam. Karena itu, BPBD Lebak menilai penting untuk terus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana.

Sukanta menjelaskan, edukasi yang diberikan tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga simulasi kebencanaan. "Kami ingin masyarakat memahami bagaimana cara menyelamatkan diri secara mandiri ketika terjadi tsunami, sehingga dapat meminimalkan risiko korban jiwa," ujarnya.

Selain kegiatan sosialisasi, BPBD juga melakukan simulasi evakuasi tsunami secara berkala. Simulasi tersebut bertujuan melatih kecepatan dan ketepatan masyarakat dalam mengambil tindakan saat terjadi keadaan darurat.

BPBD juga telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana pendukung mitigasi bencana. Fasilitas tersebut meliputi jalur evakuasi, shelter, serta sirine peringatan dini yang ditempatkan di sejumlah lokasi strategis.

"Semua kegiatan sosialisasi, edukasi, serta penyediaan sarana dan prasarana ini dilakukan untuk mengurangi risiko korban jiwa apabila terjadi bencana tsunami," kata Sukanta.

Masyarakat pesisir selatan harus selalu siap siaga menghadapi kemungkinan terjadinya gempa megathrust yang dapat memicu tsunami. Kecepatan masyarakat dalam melakukan evakuasi menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan.

Saat terjadi gempa berkekuatan besar, warga diimbau segera menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman. Untuk mendukung proses evakuasi, BPBD telah memasang rambu-rambu jalur evakuasi di delapan titik wilayah pesisir.

Rambu tersebut tersebar di Kecamatan Bayah sebanyak dua titik, Panggarangan dua titik, Cihara satu titik, Wanasalam dua titik, dan Malingping satu titik. Sukanta menilai keberadaan rambu evakuasi sangat efektif dalam membantu masyarakat menemukan jalur tercepat menuju titik aman.

"Rambu-rambu jalur evakuasi ini menjadi panduan penting bagi masyarakat untuk mencapai titik kumpul di perbukitan yang aman dari ancaman gelombang tsunami," ujarnya.

Khusus wilayah Wanasalam, masyarakat juga dapat memanfaatkan shelter yang berada di Desa Muara Binuangeun sebagai tempat perlindungan sementara saat keadaan darurat. BPBD Lebak juga mengacu pada hasil penelitian BRIN yang menilai pendekatan mitigasi berbasis jalur evakuasi dan sistem peringatan dini lebih efektif dibandingkan pembangunan infrastruktur struktural tertentu.

BPBD bekerja sama dengan dalam penyelenggaraan Sekolah Lapangan Geofisika bagi masyarakat pesisir. Melalui program tersebut, warga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda ancaman tsunami dan langkah penyelamatan yang tepat.

"Kami berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk merawat jalur evakuasi maupun sarana mitigasi lainnya agar tetap berfungsi dengan baik dan mampu mengurangi risiko kebencanaan," kata Sukanta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....