Literasi di Lingkungan Kampus Cegah Radikalisme Agama
- 10 Feb 2026 11:53 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Rendahnya literasi keagamaan yang komprehensif dinilai menjadi salah satu faktor utama munculnya radikalisme berbasis agama, khususnya di kalangan generasi muda. Dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi, memiliki peran strategis dalam membentengi mahasiswa dari paham ekstrem tersebut.
Ketua LBM Nahdlatul Ulama Kota Serang, M. Raudho, mengatakan pemahaman agama yang tidak disertai proses analisis mendalam dapat menyesatkan. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang berpotensi disalahartikan jika dipahami secara tekstual dan terpisah dari konteksnya. “Kalau hanya membaca tanpa memahami dan menganalisis, itu sangat berbahaya,” katanya dalam dialog Moderasi Beragama bersama Pro 1 RRI Banten, Selasa 10 Februari 2026.
| Baca juga: Komnas Anak Soroti Bahaya Kecanduan Gadget |
Ia menjelaskan, tradisi akademik seharusnya mendorong mahasiswa untuk membaca berbagai referensi dan sudut pandang. Dengan wawasan yang luas, mahasiswa tidak mudah terjebak pada fanatisme golongan maupun klaim kebenaran mutlak. Fanatisme yang berlebihan, menurutnya, sering kali menjadi pintu masuk radikalisme.
Raudho menilai, kurikulum pendidikan tinggi sejatinya sudah memuat nilai moderasi. Namun, tantangan muncul ketika pemahaman tersebut tidak disertai praktik dialog dan keterbukaan terhadap perbedaan. Kampus perlu menjadi ruang aman untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan menghargai ikhtilaf sebagai bagian dari kekayaan intelektual.
Selain itu, pendidikan moderasi beragama juga harus menekankan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pemahaman bahwa keberagaman merupakan sunnatullah penting ditanamkan agar mahasiswa mampu hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat majemuk.
Ia menambahkan, radikalisme tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mengancam persatuan bangsa. Sikap mudah mengkafirkan, membenci kelompok lain, hingga membenarkan kekerasan merupakan konsekuensi dari pemahaman agama yang keliru. “Agama itu mengajarkan keseimbangan, bukan kebencian,” ucapnya.
Raudho mengajak civitas akademika untuk terus memperkuat literasi keagamaan yang moderat melalui pembelajaran kritis, dialog terbuka, dan pengabdian kepada masyarakat. "Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan kampus sebagai benteng utama pencegahan radikalisme berbasis agama," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....