Komnas Anak Soroti Bahaya Kecanduan Gadget
- 28 Mei 2026 12:51 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Ketua Komnas Perlindungan Anak Provinsi Banten, Hendry Gunawan, menyoroti meningkatnya risiko kecanduan gadget pada anak akibat penggunaan handphone tanpa pengawasan orang tua. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu gangguan perilaku hingga membuka peluang anak terpapar berbagai kejahatan digital.
Hal itu disampaikan Hendry Gunawan saat menjadi narasumber dalam program Banten Menyapa bersama RRI Pro 1 Banten, Kamis,28 Mei 2026. Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memahami tanda-tanda awal kecanduan gadget pada anak sehingga baru menyadari ketika kondisi sudah cukup parah.
Hendry menjelaskan, salah satu indikator anak mulai mengalami adiksi gadget yakni penggunaan handphone lebih dari tiga sampai empat jam setiap hari. Selain itu, anak biasanya mudah marah ketika diingatkan, sulit lepas dari perangkat digital, hingga mulai menarik diri dari lingkungan sosial.
“Kalau sudah lebih dari tiga sampai empat jam di depan handphone lalu ketika diingatkan anak santun dan marah-marah, itu sudah mulai ada indikasi kecanduan,” katanya.
Ia mengatakan, anak yang mengalami kecanduan gadget cenderung lebih nyaman berinteraksi dengan teman di dunia maya dibandingkan berkomunikasi langsung dengan keluarga maupun lingkungan sekitar. Bahkan dalam beberapa kasus, anak menjadi sulit diajak berbicara dan memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar.
Hendry menyampaikan pernah menangani kasus anak yang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri ketika handphone disita oleh orang tua. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan anak sudah berada pada tahap kecanduan berat dan membutuhkan pendampingan profesional seperti psikolog maupun psikiater.
Selain risiko kecanduan, Hendry juga mengingatkan ancaman lain di ruang digital, seperti paparan radikalisme dan predator seksual terhadap anak. Ia mengungkapkan, terdapat anak-anak di Banten yang diduga terpapar paham radikal melalui permainan daring atau game online.
Hendry turut mengingatkan bahaya child grooming di media sosial, yakni modus pelaku mendekati anak dengan berpura-pura menjadi teman dekat sebelum meminta foto atau video pribadi untuk dijadikan alat ancaman. Karena itu, ia meminta orang tua lebih aktif memantau aktivitas digital anak, termasuk memahami media sosial yang digunakan serta memanfaatkan fitur parental control pada smartphone.
Menurutnya, pengawasan harus dibarengi komunikasi yang baik agar anak merasa nyaman bercerita kepada keluarga. “Kalau orang tua bisa menjadi pemandu di hutan belantara digital, maka anak-anak tidak akan tersesat,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....