Rumah Lanting, Karya Budaya Kalimantan Yang Masih Bertahan

  • 25 Sep 2024 16:29 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Rumah lanting, Rumah tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan ini memiliki struktur berupa rakit yang mengapung. Tersusun dari beberapa buah batang pohon kayu yang besar maupun rangkaian bambu yang di jalin menjadi satu.

Hal tersebut dilakukan karena Rumah Lanting akan selalu dalam kondisi terapung di sungai. Rumah Lanting muncul dikarenakan adanya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang perahu yang hidup nomaden di sungai Martapura.

Kebutuhan akan hunian yang dapat menunjang aktivitas mereka sehari-hari sebagai pedagang inilah kemudian mengawali terciptanya rumah lanting yang terletak di tepian sungai kota Banjarmasin. Pada awalnya rumah lanting merupakan rumah bagi para pedagang-pedagang yang berada di sungai.

Mereka memanfaatkan rumah lanting (rumah rakit) sebagai wadah untuk menunjang aktivitasnya sebagai pedagang. Selain sebagai tempat berdagang rumah lanting juga digunakan sebagai tempat tinggal.

Atap rumah umumnya memakai atap daun nipah atau pohon aren. Bagian dalamnya, terdiri dari ruang tamu dan ruang tidur sedangkan kamar mandi atau toilet biasanya letaknya terpisah dari bangunan utama. Sebagaimana rumah lainnya, rumah lanting juga memiliki pintu biasanya menghadap ke sungai dan daratan.

Ada juga jendela di sisi kiri dan kanan. Jembatan atau titian juga dibuat untuk akses penghubung antara rumah satu dan lainnya.

Pada era 1970-an, hampir semua rumah warga di pinggir sungai berbentuk lanting (rakit). Namun seiring dengan perkembangan zaman, rumah lanting mulai ditinggalkan.

Beberapa yang masih bertahan tinggal di sungai lebih memilih rumah berbentuk panggung yang lebih permanen dan stabil. Sehingga tidak terombang-ambing di permukaan air.

Rumah permanen yang ada saat ini menggunakan tiang pancang yang menancap di tepian sungai. Membuat rumah lanting sekarang sudah langka dan jarang di temukan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....