Mitologi Sungai, Kearifan Banjar yang Hilang (2)

  • 29 Jan 2025 15:48 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Berbagai mitologi tentang sungai yang berkembang pada masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan diceritakan secara turun temurun. Upaya tersebut sebagai salah satu cara dalam menjaga sungai yang diyakini merupakan sumber kehidupan. Hal tersebut disampaikan Noorhalis Majid dan Arif Rahman Hakim dalam acara Bacangkurah di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat (24/1/2025).

"Ada banyak cerita yang mensakralkan sungai sebagai tempat yang tidak boleh sembarangan. Banyak yang jadi inspirasi dan memberi pesan baik untuk kehidupan." kata Noorhalis.

Perkembangan mitologi 'urang Banjar' tentang sungai yang memberikan nasihat baik kemudian menjadikan peribahasa dalam bahasa Banjar. Noorhalis Majid mencontohkan seperti baguna tahi larut, umpat batang timbul, baupang dibatang tinggalam, tabuati jukung miris, banyu tanang jangan dikira kada babuhaya, dan masih banyak ungkapan penuh makna lainnya.

Sementara itu Arif yang juga aktif mengajar mata kuliah Sosiologi Masyarakat Sungai di salah satu Perguruan Tinggi di Banjarmasin, menyampaikan bahwa untuk saat ini hubungan masyarakat dengan sungai bisa dikatakan cukup berjarak. Selain pola pikir, adanya jalan darat dan modernitas telah berkontribusi menghilangkan sebagian mitologi yang ada sehingga tidak percaya dengan persaudaraan dengan yang tak kasat mata pada kehidupan sungai.

"Saya membayangkan jika kita ingin tetap menganggap sebagai masyarakat sungai ya seharusnya kita punya kesadaran akan pentingnya sungai. Tidak dilihat fisik saja tapi juga kebudayaan. Tidak dianggap pasif tapi sebaliknya agar ada timbal baliknya." ujar Arif menerangkan.

Noorhalis Majid menyebutkan beberapa mitologi dalam masyarakat Banjar tentang sungai itu diantaranya jangan membuang apapun di sungai yang membuatnya kotor. Sebab disana ada Datu Buaya Putih dan Datu Buaya Kuning. Sungai Kuin persis dipertigaannya dulu terjadi pertarungan kedua buaya sehingga menjadi lebar dan dalam.

Di sungai Pasar Lama juga sama, mereka bertarung dan akhirnya terbentuk lubang besar yang membuat pinggir sungai selalu 'rumbih'. Termasuk juga mitologi tentang 'jangan ka batang kala sanja', apalagi saat sanja kuning. Bisa saja kedua Datu tidak berkenan dan jadi celaka karena mereka juga menunggu senja kuning untuk mencari mangsa.

"Jika kita ingin melestarikan mitologi ini atau untuk mengembalikan lagi keakraban Urang Banjar terhadap sungai melalui cerita-cerita untuk generasi kita, tentu tidak ada salahnya dituliskan lalu diceritakan lagi kepada mereka. Bahwa kemudian mereka tidak percaya, ya belum tentu juga. Karena ada banyak peristiwa nanti yang akan mengikutinya." kata Noorhalis Majid

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....