Pasar Terapung: Warisan Budaya Menyatu dengan Kehidupan Sungai

  • 30 Des 2024 08:45 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Pasar terapung merupakan salah satu ikon budaya yang khas di Kalimantan Selatan, terutama di kota Banjarmasin. Aktivitas jual beli di atas perahu yang mengapung di sungai mencerminkan kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan perairan. Dua pasar terapung yang terkenal di daerah ini adalah Pasar Terapung Muara Kuin dan Pasar Terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung Muara Kuin

Terletak di Sungai Barito, Pasar Terapung Muara Kuin dianggap sebagai pasar terapung pertama dan tertua di Indonesia, dengan usia mencapai sekitar 400 tahun. Pasar ini menjadi terkenal setelah menjadi lokasi syuting iklan televisi yang melegenda. Aktivitas pasar dimulai sejak dini hari dan mencapai puncaknya saat matahari terbit, berakhir sekitar pukul 09.00 pagi.

Barang yang dijual meliputi hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan. Menariknya, pasar ini masih menerapkan sistem barter atau 'bapanduk' dalam bahasa Banjar. Meskipun pasar terapung ini mulai menghilang Pemko Banjarmasin sudah mulai mehidupkannya dengan rutin menggelar Pasar Terapung di kawasan Siring di jalan Piere Tendean Banjarmasin Tengah setiap akhir pekan.

Sementara Pasar Terapung Lok Baintan berada di Sungai Martapura, Pasar Terapung Lok Baintan merupakan pasar tradisional di mana pedagang dan pembeli menggunakan perahu yang disebut 'jukung'. Pasar ini menjadi penggerak ekonomi desa dan daya tarik wisata yang signifikan.

Aktivitas pasar dimulai sejak dini hari, dengan suasana yang unik diterangi oleh lampu teplok, dan mencapai puncaknya saat matahari terbit. Barang dagangan yang ditawarkan serupa dengan Pasar Muara Kuin, dan pasar ini juga masih mengadopsi sistem barter.

Seiring dengan perkembangan infrastruktur jalan darat, beberapa pasar terapung mengalami penurunan aktivitas. Di Desa Kuin, misalnya, pasar terapung mulai menghilang karena pedagang beralih menggunakan sepeda atau sepeda motor untuk berdagang ke desa-desa. Selain itu, gelombang yang dihasilkan oleh kapal penyeberangan juga membuat pedagang merasa takut menggunakan sampan untuk berdagang.

Untuk melestarikan budaya pasar terapung, pemerintah setempat mengadakan Festival Pasar Terapung sebagai acara tahunan. Festival ini bertujuan untuk menarik wisatawan dan menjaga warisan budaya yang unik ini tetap hidup. Selain itu, beberapa pasar terapung kini dilengkapi dengan dermaga yang memungkinkan pedagang merapatkan perahu ke tepi sungai, memudahkan pembeli yang tidak ingin naik perahu untuk berbelanja.

Pasar terapung tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga cerminan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan sungai dan simbol kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....