Uwi, Gembili, Pangan Lokal yang Mulai Langka
- 29 Jan 2026 11:47 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di ladang kering Pekaran desa, tanaman bernama uwi dan gembili pernah tumbuh akrab dengan kehidupan orang Jawa. Namun, seiring berubahnya sistem pangan dan dominasi komoditas modern, uwi dan gembili perlahan tersisih.
"Uwi umbinya besar, ada yang berwarna putih hingga ungu. Sedangkan Gembili memiliki ciri umbi yang lebih kecil, kulitnya berduri halus, dan rasanya khas," kata Sulisno, S.Sn., M.A dalam acara Ragam Budaya Sambung Roso di Pro.4 RRI Banjarmasin, Rabu, 28 Januari 2026.
Menurut Sulsno, uwi dan gembili relatif tahan ditanam pada lahan marginal dan kering. Dari Rebusan Desa hingga Inovasi UMKM dapur tradisional Jawa, uwi dan gembili diolah dengan berbagai cara sederhana.
"Saat ini sedang tren kembali makanan yang dikukus, baik pisang, jagung, talas, singkong termasuk juga uwi dan gembili. Tapi makanan bukan sekadar makanan, ada makna simbolik dibaliknya," ujarnya.
Sulisno mengatakan, jika uwi ataupun gembili biasa direbus atau kukus, lalu bisa juga digoreng sebagai camilan bernama timus atau diolah menjadi getuk. Makanan tersebut memang identik dengan jajan pasar desa sebagai konsumsi rumahan, atau kadang hadir secara musiman.
"Bukan sekadar makanan. Misal talas, tanaman ini ada dimana-mana termasuk dilahan basah sehingga maknanya dianggap sebagai sikap yang 'nerimo' atau lengkapnya nerimo ing pandum," kata dosen disebuah perguruan tinggi di Banjarmasin ini.
Berbeda dengan uwi, talas, gembili, ganyong dan sejenisnya, ada juga jenis pangan lokal yang harus diproses terlebih dulu. Gadung misalnya, sebab jika tidak maka akan mengganggu kesehatan.
Masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah 'mendem' gadung. Rasa pusing dan tidak nyaman lainnya terjadi akibat salah saat pengolahan ataupun berlebih dalam mengkonsumsinya.
Meski kaya manfaat, Ki Sulis mengungkapkan, uwi dan gembili saat ini menghadapi banyak tantangan. Beberapa diantaranya adalah produksinya yang kian kecil bahkan cenderung tidak masif. Selain itu pasar yang terbatas, dan varietas unggul yang perlahan berkurang termasuk teknologi pasca panen.
Jenis pangan lokal ini juga sering dilabeli sebagai pangan minor atau “makanan orang miskin". Sehingga menjadi salah satu stigma yang perlahan ikut mendorong penurunannya.
"Keberadaan uwi maupun gembili bukan tentang nostalgia saja. Tapi juga bagaimana menjaga keberagaman pangan dan merawat hubungan manusia dengan lingkungannya," ucap ki Sulis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....