BMKG Jelaskan Proses Terbentuknya Siklon Tropis

  • 08 Des 2025 19:53 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Acara Indonesia Bisa RRI Pro1 menghadirkan PMG Pertama BMKG Stasiun Meteorologi Gusti Syamsir Alam Kotabaru, Rino Surya Ramadhan,Senin (7/12/2025). Ia memaparkan dinamika pembentukan siklon tropis serta perbedaannya dengan tornado yang berputar di daratan dengan skala lebih kecil.

Rino menjelaskan, siklon tropis tumbuh di perairan hangat dengan suhu permukaan laut minimal 26,5 derajat celcius. Atmosfer harus dalam kondisi labil, ditandai adanya pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif seperti awan cumulonimbus sebagai pemicu awal sistem badai tersebut.

Ia menegaskan perlunya vortisitas kuat pada lapisan troposfer bawah disertai shear angin vertikal rendah agar sirkulasi siklon dapat berkembang. “Ketika kondisi terpenuhi, pusat siklon membentuk mata badai berputar dengan dinding awan rapat,” ujarnya.

Rino memaparkan empat fase siklon tropis, yaitu fase pembentukan, belum matang, matang, dan tahap pelemahan. Pada fase matang, pusat badai berbentuk bundar dengan awan tebal mengelilingi sistem dalam skala luas.

Dampak siklon meliputi angin kencang, gelombang tinggi, hingga hujan lebat dengan radius pengaruh mencapai ratusan kilometer. Efeknya dapat merusak bangunan, kapal, infrastruktur pesisir, dan memicu bencana hidrometeorologi.

Ia menambahkan penamaan siklon mengikuti daftar Organisasi Meteorologi Dunia WMO pada sistem klasifikasi internasional yang berlaku resmi. Atlantik memakai istilah hurricane, Pasifik Barat menggunakan typhoon, sedangkan Samudra Hindia tetap menyebutnya siklon tropis sesuai ketetapan regional.

"Beberapa siklon yang pernah memengaruhi Indonesia di antaranya Durga, Anggrek, Bakung, Dahlia, Flamboyan, hingga Mangga. Siklon Seroja pada tahun 2021 dan Cempaka pada tahun 2017 juga meninggalkan dampak besar, "ucapnya.

BMKG saat ini memantau dua bibit siklon, yaitu 93W di Pasifik dan 91S di barat daya Lampung. Wilayah perairan Indonesia bagian selatan tengah memasuki puncak musim siklon, sedangkan wilayah perairan utara aktivitas pertumbuhan siklon meningkat pada Juli hingga Oktober.

Ia juga mengingatkan adanya potensi pasang air laut akibat fase Bulan Purnama dan Perigee awal Desember. Dengan ketinggian air pasang maksimum diperkirakan dapat mencapai 3 meter, yang berpotensi mengganggu pelayaran dan aktivitas pesisir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....