Laung Kuning Lestarikan Kuntau sebagai Identitas Budaya Banjar

  • 04 Des 2025 09:46 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Seni bela diri tradisional Kuntau memiliki nilai luhur dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Banjar. Karena itu, kesenian ini perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang di tengah gempuran budaya modern.

Acara Pandiran Baisukan di RRI Pro 4 Banjarmasin, Selasa (2/12/2025), mengangkat tema “Minat Kuntau Banjar di Zaman Milenial”. Program ini menghadirkan tiga anggota Laung Kuning Banjar yang berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait perkembangan serta pelestarian seni bela diri Kuntau.

Tiga anggota Laung Kuning Banjar, yakni Iwan, Sukma Wirama, dan Risyandi Saputra, memaparkan sejarah, nilai, serta kekhasan Kuntau dalam tradisi Banjar. Mereka menegaskan bahwa seni bela diri ini telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Banjar.

“Generasi sekarang harus tetap berkembang sambil melestarikan Kuntau agar identitas Banjar tidak hilang dimakan zaman,” ujar Iwan. Ia menambahkan, setiap langkah dan jurus Kuntau memiliki makna tersendiri dalam tradisi Banjar.

Iwan juga menjelaskan bahwa Kuntau memiliki ciri khas yang membedakannya dengan pencak silat dari daerah lain, terutama pada unsur tabi atau penghormatan awal, serta teknik patikaman yang menjadi kekhasan Kalimantan.

Sukma menilai Laung Kuning menjadi ruang penting bagi masyarakat, khususnya kaum muda, untuk belajar dan memahami seni bela diri tradisional ini. “Tujuan kami mengangkat harkat budaya Banjar. Laung Kuning Banjar membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin mengenal Kuntau,” katanya menjelaskan.

Ia menambahkan, Kuntau tidak hanya dikenal sebagai bagian dari pertunjukan pernikahan atau penyambutan tamu, tetapi juga berkembang sebagai keterampilan bela diri yang memberikan manfaat kesehatan, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.

Risyandi turut menegaskan bahwa Kuntau bukan sekadar teknik menyerang, melainkan melatih kesabaran, pengendalian emosi, dan kedewasaan dalam bertindak. “Orang belajar Kuntau harus paham tahapan: menghindar dulu, baru melumpuhkan. Bukan langsung membalas,” ujarnya.

Masyarakat diharapkan semakin mencintai budaya sendiri dengan aktif mengenalkan tradisi kepada anak-anak. Dengan dukungan berbagai pihak, kesenian Kuntau diyakini akan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya Banjar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....