Sambung Roso: Peribahasa Jawa “Kegedhen Empyak Kurang Cagak”
- 31 Agt 2025 16:23 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Peribahasa Jawa “kegedhen empyak kurang cagak”, secara harfiah berarti atap terlalu besar, tiang penyangga kurang. Maknanya mengingatkan ketidakseimbangan antara cita-cita besar dan kemampuan yang dimiliki.
Sulisno, S.Sn., MA, yang akrab disapa Ki Sulis, budayawan Jawa, menyampaikan hal itu dalam acara Ragam Budaya Sambung Roso di RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu (20/8/2025). Ia menjelaskan banyak orang ingin membangun sesuatu yang megah tanpa menyiapkan pondasi kuat.
“Hal itu ibarat rumah dengan atap lebar, namun tiang penyangganya sedikit, sehingga mudah roboh,” ujarnya. Menurut Ki Sulis, pesan peribahasa ini relevan di berbagai aspek kehidupan.
Ki Sulis juga menjelaskan bahwa dalam keluarga, orang tua harus menyeimbangkan harapan dengan dukungan nyata bagi anak-anak. Sementara itu, dalam pemerintahan atau organisasi, kebijakan ambisius harus ditopang perencanaan matang agar tidak membebani masyarakat.
Selain itu, setiap individu perlu menakar kemampuan sebelum melangkah lebih jauh dalam kehidupan pribadi. Ambisi memang mendorong kemajuan, tetapi tanpa fondasi berupa ilmu, pengalaman, kejujuran, dan mental kuat, cita-cita bisa runtuh di tengah jalan.
Peribahasa ini menurut Ki Sulis menjadi pengingat agar masyarakat tidak hanya terpukau dengan sesuatu yang besar di permukaan. Penting untuk memperkuat fondasi terlebih dahulu agar segala cita-cita berjalan lancar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....