Tobat Sejati Harus Disertai Penyesalan Mendalam

  • 28 Mei 2025 08:50 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Istilah "tobat nasi" atau "tobat sambal" sering digunakan untuk menggambarkan tobat yang tidak sungguh-sungguh. Ungkapan ini merujuk pada orang yang mengaku bertobat, namun tetap mengulangi kesalahan yang sama.

Fenomena tobat palsu semacam ini menjadi penghalang seseorang meraih ampunan Allah Swt. Akademisi UIN Antasari, Ustaz Drs. H. Ahmad Rijali, M.Pd., menegaskan bahwa tobat sejati harus lahir dari penyesalan yang mendalam dan diikuti tindakan nyata.

“Tobat yang hanya diucapkan tanpa diiringi perubahan sikap adalah tobat yang sia-sia,” ujar Ustaz Rijali dalam program Tablig Udara di RRI Pro 1 Banjarmasin, Selasa (27/5/2025) malam. Ia menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai bukti kesungguhan tobat.

Tanpa komitmen yang kuat, dosa akan terus terulang dan menyeret seseorang ke dalam lingkaran yang sulit diputus. Ustaz Rijali mengingatkan bahwa tobat bukan sekadar ucapan, melainkan proses transformasi diri secara menyeluruh.

“Menyesal, berhenti dari maksiat, menjauhi penyebab dosa, dan memperbanyak amal saleh adalah syarat agar tobat diterima oleh Allah,” ucap Ustaz Rijali di penghujung acara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....