Syaban, Bulan Persiapan Menuju Ramadan

  • 21 Feb 2025 05:24 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Bulan Syaban hampir berakhir, menandakan semakin dekatnya bulan suci Ramadan 1446 H. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan umat Islam untuk mempersiapkan diri secara spiritual.

Menurut Akademisi UIN Antasari, Drs. H. Amal Fathullah, M.Pd.I, bulan Syaban merupakan jembatan menuju Ramadan. Sebagian orang menyambutnya dengan penuh suka cita, sementara yang lain merasa biasa saja. Hal ini bisa menjadi tanda kurangnya kesadaran akan kemuliaan waktu dalam Islam.

"Syaban adalah jembatan menuju Ramadan, bulan persiapan bagi setiap Muslim. Ketika seseorang menganggap bulan-bulan ini sebagai rutinitas biasa, bisa jadi hatinya sudah terlalu sibuk dengan urusan dunia," ujarnya, saat Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat (21/2/2025) pagi.

Disampaikan Amal Fathullah, dalam kitab Ihya’ Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada hari-hari utama dalam Islam, termasuk bulan Syaban. Bulan ini memiliki keistimewaan karena menjadi bagian dari bulan-bulan utama selain Rajab, Zulhijah, dan Muharam.

"Makna Syaban berasal dari kata syi’ab, yang berarti jalan menuju puncak. Ini adalah kesempatan untuk menyiapkan diri sebelum Ramadan tiba," katanya.

Program siaran Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat (21/2/2025). (Foto: Tangkapan Layar Youtube RRI Pro1 Banjarmasin)

Persiapan menyambut Ramadan tidak hanya terlihat dari maraknya pasar wadai dan meningkatnya aktivitas religius di media. Menurut Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini, persiapan utama yang harus dilakukan adalah kesiapan spiritual.

"Bukan hanya masjid dan pasar yang harus bersiap, tetapi hati dan perilaku kita juga harus diperbaiki," katanya.

Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitab al-Ghuniyah menekankan pentingnya menyucikan diri sebelum memasuki Ramadan. Amal Fathullah menegaskan bahwa taubat dan perbaikan diri harus menjadi fokus utama di akhir Syaban.

"Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah niat kita dalam menyambut Ramadan, apakah murni untuk Allah atau sekadar mencari keuntungan duniawi," ucapnya.

Selain aspek ibadah, bulan Ramadan juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Pedagang dan pelaku usaha biasanya merasakan peningkatan omzet, sementara masyarakat lebih banyak beraktivitas di tempat ibadah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....