Mengenal People Pleaser, Upaya Menyenangkan Semua Orang

  • 01 Okt 2024 10:50 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang cenderung selalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan hingga mengorbankan dirinya sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai 'people pleaser', hal tersebut disampaikan Rimalia Karim, Praktisi Parenting dan Keluarga, saat berbincang bersama RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu (30/9/2024).

Rimalia mengatakan, kecenderungan ini bisa berdampak negatif, terutama dalam lingkungan keluarga dan hubungan interpersonal.

"Seorang people pleaser biasanya merasa tidak nyaman jika tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain, hal ini sering kali berakar dari keinginan untuk diterima dan diakui oleh lingkungan sekitarnya, ijat Rimalia.

Rimalia menambahkan, bahwa menjadi people pleaser sering kali muncul sejak usia dini, terutama jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan di mana pengakuan dan cinta bersyarat diberikan hanya saat mereka memenuhi harapan tertentu. "Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini bisa jadi dewasa dengan pola pikir bahwa kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kesejahteraan diri sendiri," kata Rimalia.

Salah satu dampak terbesar dari perilaku people pleasing, menurut Rimalia, adalah munculnya ketidakseimbangan dalam hubungan. Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain bisa kesulitan menetapkan batasan, sehingga sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya.

"Ketika seseorang tidak mampu mengatakan 'tidak,' mereka cenderung menanggung beban emosional yang berat,hal ini juga dapat memicu stres berlebihan dan bahkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi,ujar Rimalia.

Namun, Rimalia percaya bahwa kesadaran dan dukungan yang tepat dapat membantu seseorang untuk keluar dari pola people pleasing. "Langkah pertama adalah mengenali perilaku tersebut dan menyadari dampaknya terhadap diri sendiri," ujarnya.

Rimalia Karim juga mengatakan penting untuk belajar mengatakan 'tidak' dengan cara yang sehat dan asertif. Menurutnya, membangun rasa percaya diri dan memahami bahwa kebahagiaan pribadi sama pentingnya dengan kebahagiaan orang lain juga merupakan kunci untuk mengubah perilaku ini.

Rimalia menekankan bahwa pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah terbentuknya pola people pleasing pada anak-anak. Orang tua perlu memberikan dukungan tanpa syarat dan mengajarkan pentingnya menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan sosial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....