Suku Bunga BI Naik, Kebangkitan Rupiah Ekonomi Indonesia?

  • 11 Jun 2026 06:56 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Gubernur Bank Indonesia, kembali menaikan suku bunga atau BI rate sebanyak 25 bps untuk mengendalikan nilai tukar rupiah. Satu sisi diklaim meningkatkan nilai rupiah.

Namun sisi lainnya membuat kekhawatiran bunga cicilan pinjaman masyarakat ikut naik. Lalu adakah solusi lainnya yang masih terbuka yang bisa kita pertimbangkan?

Langkah Bank Indonesia mengambil keputusan ini, menurutnya adalah untuk memantik penguatan rupiah. Serta menarik kembali minat investor asing terhadap Indonesia.

"Yang kita putuskan hari ini, menaikkan BI rate menjadi 5,5 persen, 25 basis poin ya. Agar memang rupiah itu semakin stabil, menguat, dan tentu saja agar proyeksi inflasi ke depan, tahun ini dan tahun depan, tetap 2,5 plus minus 1 persen. Sekaligus kenaikan BI rate ini untuk menarik masuknya investasi portofolio asing," ucap Perry Warjiyo, Gubernur BI di Jakarta pada Selasa 9 Juni 2026.

Tak dapat dipungkiri Negara Indonesia saat ini, masih terus mempertimbangkan segala opsinya. Apakah harus menaikkan suku bunga atau sebaliknya, menurunkannya. Di kesempatan yang berbeda seorang Pengamat Ekonomi Islam dan Founder Muslim Preneurship, Risco Frederick, mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi Eknomi Indonesia saat ini perlu lebih banyak melihat sudut pandang alternatif.

Risco menilai bahwa ketika suatu negara terus-menerus bergantung pada instrumen bunga untuk menstabilkan nilai mata uangnya. Hal itu menjadi indikator bahwa struktur ekonomi negara tersebut masih bertumpu pada sektor keuangan, bukan pada sektor riil atau produktif.

Langkah menaikkan BI Rate saat ini dinilainya hanya untuk menjaga kepercayaan pasar jangka pendek. Padahal yang jauh lebih mendasar adalah membangun kekuatan pasar itu sendiri.

"Kekuatan ekonomi tidak lahir dari bunga. Kekuatan ekonomi lahir dari manusia yang produktif. Lahir dari para pedagang yang jujur, petani yang diberdayakan, industri yang hidup, dan pengusaha yang menciptakan nilai," katanya melalui telepon Exclusive Interview dari Bengkulu pada Rabu 10 Juni 2026.

Meskipun tidak menyalahkan langkah Bank Indonesia yang memang bertindak sesuai sistem yang berlaku saat ini, Risco menegaskan bahwa instrumen bunga bukanlah jalan keluar jangka panjang bagi perekonomian bangsa. "Sejarah membuktikan tidak ada bangsa yang menjadi besar karena memainkan bunga. Bangsa besar selalu lahir dari produksi, perdagangan, inovasi, serta kualitas manusianya," ucapnya.

Lalu Bagaimana dampaknya bagi masyarakat yang sudah mengambil KPR, cicilan motor dan kredit lainnya? Risco mengakui bahwa kelompok inilah yang paling pertama dan paling berat merasakan dampak langsungnya.

Kenaikan BI Rate otomatis menaikkan beban bunga utang, memperbesar cicilan, dan pada akhirnya mempersempit ruang napas keuangan rumah tangga mereka. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Komunitas Muslim Preneurship yang beliau kelola karena banyak masyarakat yang terjebak bekerja semakin keras setiap tahunnya hanya demi melunasi kewajiban finansial di masa lalu.

Muslim Preneurship Institute (Foto: Dok.Risco Frederick)

Sebagai solusi preventif, ia memberikan nasihat penting."Jangan membangun masa depan di atas tumpukan hutang. Bangunlah masa depan di atas aset produktif dan kemampuan menghasilkan nilai. Karena utang membuat seseorang bekerja untuk masa lalunya, sedangkan aset membuat seseorang bekerja untuk masa depannya, ujarnya.

Jika ekonomi negara diuntungkan, maka kapan masyarakat yang berutang ikut menikmati manfaatnya? Seringnya masyarakat diminta bersabar demi perbaikan indikator makroekonomi, Risco menjelaskan bahwa pertumbuhan makro tidak serta-merta dirasakan oleh masyarakat kelas bawah.

Jika pertumbuhan tersebut tidak diiringi dengan perluasan lapangan kerja riil atau jika investasi asing hanya berputar di sektor keuangan. Maka daya beli masyarakat akan tetap melemah meski statistik di atas kertas terlihat membaik.

Bagi pendiri komunitas ini, parameter keberhasilan ekonomi sebuah negara harus diubah dari sekadar penguatan nilai tukar mata uang, "Ukuran keberhasilan ekonomi bukan sekedar rupiah menguat. Ukuran keberhasilan ekonomi adalah semakin banyaknya keluarga yang bisa hidup layak tanpa hutang, semakin banyak anak muda yang mandiri berbisnis, dan banyaknya masyarakat bawah yang naik kelas secara ekonomi," ucapnya.

Ia menekankan bahwa selama indikator-indikator kesejahteraan riil tersebut belum tercapai, maka pekerjaan rumah pemerintah dalam membenahi ekonomi masih sangat panjang. Lalu bagaimana dengan solusi alternatif untuk mengembalikan kejayaan ekonomi Indonesia? gagasan yang sederhana namun mendasar dari kacamata Founder Muslim Preneurship ini.

Dikatakan, Indonesia perlu fokus pada penciptaan nilai yang nyata di masyarakat, membangkitkan pasar umat. Serta menghidupkan kembali etos dagang yang jujur sebagaimana yang dicontohkan pada masa kejayaan peradaban Islam.

Ia menggarisbawahi arah pembangunan ekonomi yang sehat yakni Indonesia harus memperbanyak pencipta nilai, bukan memperbanyak pemburu keuntungan. Tambahnya, penguatan ekonomi nasional harus bertumpu pada penciptaan lapangan kerja secara mandiri dan memperbanyak jumlah produsen domestik ketimbang konsumen.

Risco meyakini bahwa negara yang mandiri dan kuat adalah negara yang mampu menghasilkan produknya sendiri, bukan negara yang sekadar menghabiskan atau mengonsumsi produk bangsa lain. Apakah kondisi krisis ekonomi zaman Presiden Habibie dan sekarang bisa disamakan penanganannya?

Menurutnya krisis moneter tahun 1998 di era Presiden Habibie tidak bisa disamakan dengan tantangan ekonomi saat ini karena akar permasalahannya berbeda. Jika tahun 1998 Indonesia didera krisis kepercayaan, tantangan di tahun 2026 ini dinilainya jauh lebih struktural dan mendalam menurut sudut pandang Risco, yaitu krisis produktivitas, krisis kemandirian, dominasi mentalitas konsumtif, serta minimnya keberanian untuk membangun sektor riil.

Ia menekankan bahwa masyarakat saat ini terlalu berfokus pada hasil instan tanpa memedulikan proses penciptaan nilai. "Solusi tahun 98 tidak bisa di-copy paste ke tahun 2026, karena penyakitnya beda," katanya.

Menurutnya, mengejar keuntungan atau cuan tanpa membangun nilai atau value tidak akan bertahan lama, sebab nilai yang terjaga dengan baiklah yang pada akhirnya akan melahirkan keuntungan finansial yang sehat secara berkelanjutan.

Risco mengakhiri pemaparannya dengan menegaskan keyakinannya bahwa kebangkitan ekonomi nasional tidak akan dimulai dari kemegahan fisik seperti gedung pencakar langit, pasar modal, atau angka statistik semata. Kebangkitan tersebut justru akan lahir dari bawah melalui kehadiran jutaan pengusaha yang memegang teguh integritas moral atau tauhid dan memandang bisnis sebagai bagian dari ibadah serta pengabdian masyarakat.

"Sesungguhnya bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling banyak berutang atau yang paling tinggi bunganya, melainkan bangsa yang rakyatnya paling produktif, paling mandiri, dan paling banyak bisa menciptakan atau memberi manfaat,"

Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk berhenti sekadar mengkritik sistem ekonomi yang ada dan mulai mengambil tindakan nyata dengan membangun usaha mandiri. Serta menghidupkan pasar-pasar lokal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....