Perbedaan Keyakinan Menjadi Ujian Kedewasaan Beragama
- 29 Apr 2026 22:59 WIB
- Banjarmasin
RRI, CO.ID Banjarmasin : Ditengah kehidupan yang semakin beragam, perbedaan keyakinan kerap kali menjadi ujian bagi kedewasaan beragama.
Tidak sedikit emosi justru lebih dominan dari pada nilai - nilai kasih. Sehingga ruang dialog berubah diruang perdebatan.
Beragama tidak harus dengan kemarahan, namun dengan ketenangan, pemahaman, dan saling menghargai. Bagaimana bersama-sama membangun sikap beragama yang damai ditengah perbedaan.
“Emosi dalam beragama mungkin jika misalnya adanya intoleransi antara agama - agama lain atau kaya ada penistaan agama antara agama 1 dan lainnya, biasanya ada pribadi yang rasanya marah, padahal yang dimaksud tidak seperti itu," ujar Kerin Kemberuani S.R., Mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi GKE pada acara Dialog Moderasi Beragama Pro 1 RRI Banjarmasin, Selasa, 28 April 2026.
Selain itu, menurut Kerin, adanya sikap ekstrim kenapa seseorang beragama bisa marah - marah karena mempunyai ekstremisme. Salah satunnya, kata Husni Norin dari LK3 Banjarmasin, disebabkan oleh seorang yang terlalu fanatis.
“Misalkan terhadap agamanya terlalu fanatik, contohnya seperti mengkafirkan seseorang, jadinya orang seperti ini ketika ke orang yang berbeda agama sehingga dia pasti marah - marah.," katanya.
Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Antasari Banjarmasin, Maulisa Sabdazety, menyampaikan bahwa pembahasan agama kerap memicu emosi sebagian orang. Ia menilai, seseorang yang benar-benar memahami ajaran agama seharusnya mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
“Karena agama itu justru mengajarkan kita untuk sabar, menanamkan toleransi dan lain - lain,: ucap Maulisa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....