Mengenal Sejarah Pelayaran Sungai Masyarakat Banjar
- 05 Apr 2026 09:43 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dikenal luas sebagai Kota Seribu Sungai, kota Banjarmasin tak pernah lepas dari julukan tersebut. Keberadaan jalur sungai memiliki sejarah dan peran penting dalam kehidupan masyarakat Banjar sejak ratusan tahun yang lalu.
"Sungai berfungsi sebagai jalur transportasi, ekonomi sekaligus sebagai sarana interaksi sosial masyarakat Banjar. Soalnya dulu jalan darat belun berkembang seperti sekarang, jadi masih banyak perahu sebagai alat utama aktivitas warga," ujar Erwin dalam acara Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin, Sabtu, 4 April 2026 di Pro.4 RRI.
Sebagai pecinta sejarah, Erwin dan Syauqani tergabung dalam Komunitas Palalah sejak tahun 2015. Mereka mengungkapkan, keberadaan sungai seperti Sungai Barito maupun sungai Martapura sejak lama menjadi urat nadi kehidupan orang Banjar di Kalimantan Selatan.
"Diantaranya untuk berdagang, mengangkut hasil bumi ataupun penghubung antar wilayah," ujarnya.
Dikatakan, dahulu banyak aktivitas pelayaran dilakukan di sejumlah perairan sungai di Kalimantan Selatan. Termasuk kapal-kapal kayu dan perahu tradisional seperti jukung dan kelotok menjadi sarana utama masyarakat dalam mengarungi sungai.
Sementara itu Syauqani, menjelaskan bahwa budaya pelayaran sungai tidak hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga membentuk identitas masyarakat Banjar. Sungai sejak zaman dulu merupakan halaman depan bagi masyarakat Banjar.
"Bahkan beberapa tradisi masih bertahan hingga saat ini menjadi bukti kuatnya hubungan antara masyarakat dengan sungai," katanya.
Sejarah pelayaran sungai orang Banjar itu, kata Syauqani adalah sejarah kehidupan masyarakatnya. Termasuk keahlian dalam membuat perahu atau jukung dan juga 'bakayuh jukung'nya.
Menurutnya, selain kehidupan dan aktivitasnya, keberadaan pemukiman di bantaran sungai hingga nama-nama daerahnya juga menunjukkan bahwa sungai berperan strategis sejak lama. Berbagai tradisi dan salah satunya adalah aktivitas pasar terapung hingga saat ini masih menjadi ikon wisata daerah.
“Perahu-perahu para pedagang di sungai jadi salah satu bukti jika dulu pelayaran sungai adalah sistem ekonomi yang hidup. Sekarang jejaknya bisa kita lihat di pasar terapung," ucap Syauqani
Syauqani dan Erwin mengaku aktif melakukan perjalanan ke berbagai tempat penuh sejarah. Menghimpun kisah maupun informasi dari sejumlah sumber untuk dokumentasi dan bahan edukasi.
Dengan semakin memahami sejarah sungai, ia berharap generasi lain juga peduli dalam menjaga sungai. Hal itu agar sungai tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat.
"Dengan mengenal lebih dekat sejarah pelayaran sungai, semoga kita lebih peduli dalam menjaga bagian penting dari warisan budaya daerah," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....