Komunitas Palalah: Bakisahan Tokoh Panglima Batur

  • 15 Agt 2024 12:36 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Panglima Batur merupakan panglima Suku Dayak Bakumpai, lahir di Buntok Kacil (Kab. Barito Utara) tahun 1852 dengan nama Batur bin Barui. Dalam Perang Banjar yang berlanjut kepedalaman barito batur adalah seorang Panglima Suku Dayak Bakumpai yang beragama islam.

Erwin dari kumonitas Palalah saat mengisi acara Serba-Serbi Nusantara di RRI Pro4 Banjarmasin mengatakan, Panglima Batur adalah salah seorang panglima yang setia kepada Sultan Muhammad Seman. Serangkaian perlawanan yang dilakukan Panglima Batur dimulai setelah ia bertemu dengan Gusti Muhammad Seman di awal tahun 1904, Sabtu (10/8/2024).

Pada Kesempatan yang sama Neza menambahkan, Panglima Batur bersama Sultan Seman mempertahankan Benteng terakhir di Sungai Manawing melawan Belanda yang dipimpin oleh Christofel yang berpengalaman dalam perang Aceh, menyerbu benteng Manawing pada Januari 1905. Pemerintah Kolonial Belanda berhasil mengepung pasukan Gusti Muhammad Seman. Pertempuran yang tak seimbang membuat Sultan Muhammad Seman tertembak dan gugur sebagai Kusuma Bangsa. Meskipun begitu perlawanan terus berlanjut dibawah kepemimpinan Panglima Batur.

Pasca kematian Gusti Muhammad Seman beberapa pasukan perlawanan mulai goyah, mereka mulai menarik diri dari pertempuran. Lain halnya dengan sang panglima yang terus melakukan penyerangan dan perlawanan meskipun dalam skala yang lebih kecil dari sebelumnya. Untuk itu Pemerintah kolonial Belanda tidak tinggal diam dengan apa yang dilakukan oleh panglima Batur.

"Operasi militer tetap dilakukan. Tetapi, karena medan yang cukup sulit dan keadaan alam yang belum dikuasai sepenuhnya, pemerintah kolonial Belanda kerap kali gagal untuk menangkap panglima Batur. Sang panglima kerap kali lolos dari berbagai pengepungan yang dilakukan," kata Syauqani, yang juga turut hadir dalam acara serba-serbi nusantara.

Panglima Batur adalah panglima yang teguh dalam pendirian, namun mudah sedih bila keluarga jatuh menderita. Kelemahan ini lah yang dijadikan Belanda untuk menjebak Panglima Batur.

"Pada akhirnya Belanda menawan satu daerah yang memiliki kekerabatan dengan panglima Batur dan melakukan penangkapan kepada keponakan panglima Batur yang kemudian disiksa tanpa ampun. Keponakan beliau akan dilepaskan apabila Panglima Batur mau berunding dengan Belanda," ujar Erwin menambahkan.

Sesampainya di sana bukan perundingan yang didapatkan tetapi Panglima Batur ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di meja pengadilan. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu ditawan di Muara Teweh, Panglima Batur diangkut dengan kapal ke Banjarmasin.

Di Banjarmasin Panglima Batur diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan.

"Permintaan terakhir yang diucapkannya Panglima Batur minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya. Dia dimakamkan di belakang Masjid Jami Banjarmasin, tetapi sejak 21 April 1958 jenazahnya dipindahkan ke komplek Makam Pangeran Antasari di Kuburan Muslimin Banjarmasin, kata Syauqani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....