Tradisi Bamandi-Mandi 7 Bulanan Adat Banjar
- 23 Jul 2024 19:08 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin : Masyarakat Banjar memiliki berbagai macam adat dan tradisi yang sudah melekat dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari salah satunya Tradisi Bamandi–mandi 7 Bulanan.
Tradisi bagi perempuan hamil pertama kali. Ketika usia kehamilan mencapai 7 bulan maka diadakan upacara mandi-mandi, yang disebut Mandi-mandi Manujuh Bulanan (mandi tujuh bulan).
"Untuk tradisi ini bisanya dilakukan untuk kehamilan pertama atau kehamilan dengan urutan ganjil tergantung dari asal tradisi dan keturunan ibu hamil tersebut," Dr. Kamariah, M. Pd saat mengisi acara Pandiran Baisukan di RRI Pro 4 Banjarmasin.
"Bamandi-mandi 7 bulanan biasanya dilakukan selain sebagai tradisi juga untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan bagi ibu dan bayi yang dikandung hingga melahirkan nanti," kata Noor Indah Wulandari, M.Pd., menambahkan.
Saat prosesi bamandi-mandi ibu hamil mengenakan pakaian yang indah dan dirias secantik mungkin dengan hiasan bunga melati sambil memangku tunas kelapa yang diselimuti kain kuning. Dan dilengkapi dengan sajian wadai 41 macam.
Tunas kelapa yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan si jabang bayi yang kelak dapat tumbuh dimana saja dan berguna bagi masyarakat.
Untuk tempat mandi-mandi berbentuk persegi dimana tiangnya terbuat dari batang tebu dan diberi pagar tali yang digantungi kembang renteng, disela-selanya diikat berbagai kue, uang dan buah pisang.
"Kemudian empat sisi dililit dengan kain khas Banjar sasirangan atau kain berwarna kuning keramat," ujar Kamariah.
Air yang digunakan untuk bamandi-mandi direndam bunga dan mayang yang sudah dibacakan surah Yasin atau Burdah. Wanita yang memandikan ibu hamil jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan biasanya merupakan para kerabat dekat atau orang yang dituakan.
Saat bamandi–mandi ibu hamil disirami dengan air bunga biasanya juga dibedaki dengan bedak beras kuning lalu mengeramasinya.
Kembang Mayang dikeluarkan dari rendaman dan diletakkan di atas kepala ibu hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda, dan airnya harus dihirup oleh ibu hamil tersebut.
Selanjutnya mayang juga dipecahkan karena pecahnya bunga mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan berjalan dengan lancar.
Setelah selesai kemudian berganti pakaian lalu keluar dari tempat pemandian. Kemudian menginjak sebiji telur ayam yang sudah disediakan ketika melewatinya dan kemudian menuju kedalam rumah sambil di iringi bacaan shalawat beramai-ramai.
"Pecahnya telur ketika diinjak melambangkan proses kelahiran yang cepat dan mudah," kata Indah.
Kemudian Ibu hamil duduk di atas kain berlapis, disisiri, disanggul rambutnya dan di kelilingi dengan lilin dan cermin kecil.
"setelah itu di tapung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tapung tawar," ujar Indah.
"Setelah itu dibacakan doa selamat dan diakhiri dengan Ibu hamil yang menyalami semua undangan sebagai bentuk rasa terima kasih dan mohon doa keselamatan pada semua yang hadir," ujar Kamariah melengkapi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....