Memahami Gangguan Berbahasa Pada Anak
- 14 Jul 2024 08:35 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Memahami gejala dan penyebab sebagai langkah awal untuk memberikan intervensi. Kesulitan bahasa bisa terjadi pada aspek reseptif/memahami berupa artikulasi, fonologis, kefasihan serta suara, dan aspek ekspresif/menyatakan.
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Lisya Ramitha Putri, S.Pd.I, M.Pd dalam acara Mozaik Indonesia di RRI Pro1 Banjarmasin mengatakan, permasalahan yang terjadi 10-15% terjadi pada masa prasekolah dan 6% pasa usia sekolah, terjadinya defisit, sulit mengingat, sulit menggunakan gesture, hingga sulit memahami bahasa.
Dampaknya pada perkembangan kognitif tentu mengarah pada akademik dengan ditandainya kesulitan membaca, menulis, dan memahami.
"Pada perkembangan sosial tentu berkesulitan saat berkomunikasi dan berinteraksi yang pada akhirnya anak menjadi rendah diri dan frustasi sebagai dampak secara emosionalnya, kata Lisya, Sabtu, (13/7/2924).
Lisya menjelaskan, dari berbagai faktor gangguan berbahasa bisa dirangkum berdasarkan biologis (cedera otak, kelainan genetik, kelainan saat hamil dan melahirkan, cedera traumatik saat kecelakaan, masalah organ seperti langit mulut terbelah/sumbing, hilangnya pendengaran baik konduktif, infeksi telinga tengah, dan sensoris).
Selanjutnya Lisya juga mengatakan, pada faktor lingkungan bisa karena kurangnya stimulasi, pada faktor psikologis yaitu karena proses kognitifnya berupa perhatian dan memoti, serta dari masalah oral seperti kebiasaan makan dan mendorong lidah ke depan, juga pada segi modeling yang keliru.
Banyak penelitian menyebutkan anak dapat dikatakan terlambat perkembangan bahasa bicaranya jika terlihat pada usia 2 tahun belum memiliki 50 kosakata dan belum mampu merangkai 2 kata, maka perlu segera dikonsultasikan pada dokter spesialis anak agar bisa discreening sedini mungkin hingga dilakukan tes dan evaluasi komprehensif agar dapat berkolaborasi dengan keterlibatan profesional lainnya sesuai diagnosis medis sehingga diberikan intervensi segera.
"Dengan begitu menurut Lisya, metode 'wait and see' tidak direkomendasikan lagi karena ketertinggalan anak belum tentu terkejar dan menyebabkan resiko kompleks lainnya jika tidak ditangani sedini mungkin," ujarnya.
Lebih kanjut Lisya juga menjelaskan, banyak pendekatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa seperti self talk_(membahasakan/ memverbalkan) dan paraleltok (menarasikan kegiatan anak dengan objek yang dipegangnya).
"Adapun teknik verbalisasi menambah kosakata anak bisa dilakukan dengan expansion (menambahkan kata baru yang diucapkan) dan dengan extension (menambah informasi baru pada kata tersebut)," ucapnya.
Orang tua sebagai support system tentu terlibat secara aktif dan lebih peka dengan perkembangan bahasa anak, menjaga quality time untuk berkomunikasi pada anak, melakukan permainan sederhana yang menyenangkan untuk menambah kosakata anak dan melatih kebahasaannya.
"Memberikan model kebahasaan dengan benar dan lengkap (tidak menggunakan bahasa keliru seperti pengucapan picang untuk pisang atau cucu untuk susu), lebih diperhatikan cara berkomunikasi pada anak agar lebih responsif," ujar Lisya.
Jika dirasa perkembangan bahasa anak mengalami tanda atau gejala maka jangan ragu untuk segera dikonsultasikan pada dokter spesialis anak agar dapat ditangani segera bersama ahli lainnya sesuai kebutuhan saat intervensi pada anak,' katanya mengakhiri obrolan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....