Kabut Asap, CMR Soroti Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh

  • 30 Sep 2026 18:57 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Pengajar relawan CMR Fitmi Maulida dan Nor Aida menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan pembelajaran jarak jauh dan perubahan jam sekolah untuk mengurangi paparan kabut asap dari karhutla di Banjarmasin.
  • CMR melaksanakan kegiatan edukasi langsung di sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang cara menghadapi karhutla, penggunaan masker, dan menjaga kebersihan.
  • Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan memaksa lembaga pendidikan untuk melakukan penyesuaian strategis dalam proses belajar mengajar guna melindungi kesehatan siswa.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pengajar sekaligus relawan Citra Mitra Remaja (CMR), Fitmi Maulida dan Nor Aida, menyebut kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan membuat kegiatan pendidikan perlu menyesuaikan keadaan. Penyesuaian dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh hingga perubahan jam sekolah untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa.

CMR juga memiliki kegiatan yang dilakukan langsung di sekolah untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenai kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Kegiatan tersebut mencakup pemahaman mengenai cara menghadapi karhutla, penggunaan masker, dan menjaga kebersihan.

“Biasanya kami adakan sosialisasi di sekolah-sekolah. Seperti bagaimana menghadapi karhutla, memakai masker, menjaga kebersihan, dan lain sebagainya,” ujar Aida saat dialog Sore Ceria di RRI Pro2 Banjarmasin, Senin, 28 September 2026.

Setelah kebijakan perpanjangan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Fitmi berharap masyarakat semakin waspada dalam menyikapi kondisi kabut asap akibat karhutla. Ia menyebut tingkat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Barito Kuala lebih tinggi dibandingkan Banjarmasin.

“Kebetulan di Barito Kuala itu, ISPU-nya mencapai 304. Kalau di Banjarmasin itu 113, jadi sangat-sangat berbahaya sekali kalau anak-anak itu ke sekolah,” ucap Fitmi.

Dalam pelaksanaan PJJ, siswa sementara mengikuti kegiatan belajar melalui Zoom Meeting. Selain pembelajaran dan diskusi melalui Zoom, aplikasi WhatsApp juga digunakan sebagai media absensi.

Pelaksanaan PJJ masih menghadapi sejumlah keterbatasan dari siswa, mulai dari jaringan internet hingga ketersediaan perangkat. Beberapa siswa bahkan harus berbagi telepon seluler dengan orang tua yang menggunakannya untuk bekerja.

“Kadang HP-nya itu dipakai orang tuanya bekerja, jadi ada beberapa anak yang tidak bisa hadir waktu jam pelajaran,” ujar Fitmi. “Lalu kendala internet, mungkin itu tantangan seorang guru pada masa PJJ.”

Dengan berbagai kendala yang dihadapi, siswa diharapkan tetap menjaga kesehatan dan mengikuti pembelajaran sesuai kondisi yang memungkinkan. Penyesuaian kegiatan belajar menjadi salah satu upaya agar proses pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi kabut asap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....