Mahasiswa UNISKA MAB Ciptakan Alat Deteksi Gas Beracun SIPARTA
- 15 Sep 2026 08:30 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin — Kebiasaan mencampur produk pembersih toilet atau lantai demi hasil yang lebih bersih diam-diam menyimpan bahaya fatal bagi keluarga akibat pelepasan emisi gas reaktif dan senyawa organik volatil. Berangkat dari ancaman nyata di lingkungan rumah tangga tersebut, tim mahasiswa Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) berhasil merancang dan merealisasikan purwarupa instrumen deteksi gas cerdas portabel bernama SIPARTA.
Inovasi aplikatif ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026 yang didanai Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek. Yakni dengan dukungan penuh pihak perguruan tinggi UNISKA MAB.
Ketua tim pelaksana SIPARTA, Muhammad Rahman, menuturkan bahwa insiden keracunan di ruang domestik selama ini kerap terabaikan karena gas berbahaya sering kali tidak kasat mata. Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat keracunan yang tidak disengaja di Indonesia mencapai 0,3 per 100.000 penduduk.
| Baca juga: Mahasiswa UNISKA MAB Raih Juara II Jiu-Jitsu |
Persoalan kian pelik lantaran detektor konvensional murah di pasaran umumnya hanya mengandalkan satu sensor. Sehingga rentan memicu alarm palsu atau terlambat membaca uap campuran kompleks akibat fenomena reaksi silang (cross-sensitivity) antar-senyawa.
"Di rumah tangga, banyak orang tidak sadar bahwa mencampur cairan pembersih seperti pemutih dengan bahan lain bisa memicu gas beracun seketika. Detektor biasa umumnya hanya bekerja pada satu ancaman gas tunggal. Karena itu, SIPARTA kami bekali susunan empat sensor, yakni MiCS-5524, Figaro TGS2600, MQ-2, dan MQ-135 yang terintegrasi konverter ADC ADS1115 16-bit agar mampu mengenali sidik jari kimiawi atau chemical fingerprinting dari campuran gas secara simultan," ujar Rahman dalam keterangan tertulis, Selasa 15 September 2026.
Anggota tim pengembang, Renny Melanda Febriyanti, menegaskan bahwa perlindungan keselamatan keluarga tidak boleh terhenti saat sinyal internet rumah tangga mengalami gangguan atau terputus. Oleh karena itu, arsitektur pemrosesan lokal (edge computing) menggunakan model Jaringan Saraf Tiruan dengan 12.739 parameter ditanamkan langsung pada perangkat untuk mengklasifikasikan tingkat risiko bahaya secara seketika.
"Sistem deteksi kami bekerja mandiri secara lokal menggunakan prosesor Raspberry Pi 3 B+ serta ditopang suplai baterai Li-ion berproteksi Battery Management System. Jadi, meskipun internet rumah mati total atau aliran listrik terputus, alarm suara buzzer dan lampu indikator peringatan tetap menyala seketika di tempat kejadian, memberikan waktu krusial bagi penghuni rumah untuk segera menyelamatkan diri," ucap Renny.
Dampak perlindungan alat ini kian optimal saat terhubung ke jaringan daring. Selain mencatat rekam jejak telemetri insiden secara permanen (tamper-proof) ke dalam smart contract pada jaringan blockchain Polygon Amoy Testnet yang telah teruji stabil lewat pencatatan 25 transaksi, SIPARTA juga terhubung dengan asisten Gemini AI API yang dirancang secara presisi untuk memandu langkah evakuasi dan pertolongan pertama bagi korban.
Purwarupa fisik SIPARTA telah sukses melalui uji fungsional paparan gas etanol serta propana/butana dan resmi mengantongi perlindungan hukum melalui Surat Pencatatan Ciptaan Program Komputer nomor 001482447 dari Kementerian Hukum RI.
Saat ini, tim bersiap melanjutkan tahapan validasi pada ruang uji terkendali (chamber test) laboratorium dengan target akurasi minimal 85 persen pada 8 skenario paparan kimia. Hal ini sebagai pijakan sebelum inovasi ini diimplementasikan secara luas di lingkungan pemukiman masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....