PM2.5 Banjarbaru Capai 271,5, Udara Berbahaya
- 10 Sep 2026 07:18 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Kualitas udara di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada pagi 10 September 2026
- konsentrasi partikulat halus atau PM2.5
RRI.CO.ID, Banjarmasin- Kualitas udara di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada pagi 10 September 2026 berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai. Berdasarkan pantauan aplikasi InfoBMKG, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 271,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori berbahaya.
Tingginya konsentrasi PM2.5 tersebut menunjukkan adanya peningkatan partikulat halus di udara yang perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama di tengah kondisi kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
| Baca juga: OMC Kalsel, Tiga Ton NaCl Disemai dari Udara |
Kondisi tersebut berbeda dengan pemantauan BMKG pada 9 September 2026 pukul 11.00 WIB, ketika konsentrasi PM2.5 Banjarbaru yang tercatat dalam laman BMKG berada pada 29,8 µg/m³ atau kategori sedang. Perbedaan angka menunjukkan bahwa konsentrasi partikulat dapat berubah cukup cepat mengikuti kondisi atmosfer, sumber emisi, arah angin dan faktor cuaca lainnya.
Pagi hari menjadi waktu yang patut diperhatikan ketika terjadi kabut asap. Dalam kondisi atmosfer tertentu, asap dan partikulat dapat terakumulasi di dekat permukaan sehingga kualitas udara yang dihirup masyarakat menjadi lebih buruk. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat ketebalan kabut secara visual, tetapi juga memperhatikan data konsentrasi PM2.5.
Kondisi udara berbahaya ini juga terjadi di tengah kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. BMKG pada awal September 2026 mengingatkan bahwa September masih menjadi salah satu fase kritis karhutla, dengan kondisi cuaca kering dan pengaruh El Niño yang perlu diwaspadai. BMKG Kalsel juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi iklim dan potensi karhutla di wilayah Kalimantan Selatan.
Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Masyarakat dapat mengalami keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, mata perih dan sesak napas. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular, perlu mendapat perhatian lebih.
Dengan kondisi PM2.5 mencapai 271,5 µg/m³, masyarakat Banjarbaru disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap cukup pekat. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dapat membantu mengurangi paparan, sementara aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dihindari.
Masyarakat juga diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara melalui InfoBMKG dan sumber resmi lainnya, karena konsentrasi PM2.5 dapat berubah sepanjang hari. Kondisi pagi 10 September ini menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang, tetapi juga persoalan kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....