Kemarau Kalsel Makin Kering, BMKG Waspadai Asap dan Karhutla

  • 26 Agt 2026 08:46 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - BMKG menyebut kemarau di Kalimantan Selatan tahun ini lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut dipengaruhi El Nino kuat, minimnya tutupan awan, serta dominasi angin monsun Australia yang membawa udara kering, Selasa, 25 Agustus 2026

Agus Kuswanto, Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Kalsel, mengatakan puncak kemarau diperkirakan terjadi September. Kondisi kering menyebabkan kelembapan rendah, suhu siang terasa lebih panas, dan lahan gambut kehilangan kelembapan alaminya.

“Kemarau tahun ini memang begitu kering karena ada dampak El Nino yang kuat," ucap Agus. "Suhu juga terasa lebih panas karena kelembapan rendah dan awan minim.”

Agus menjelaskan asap kebakaran cenderung terkonsentrasi dekat permukaan bumi pada malam hingga pagi hari. Kondisi tersebut terjadi karena permukaan masih dingin sehingga polutan sulit bergerak naik sebelum udara menghangat.

Angin tenggara yang bertiup menuju barat daya juga dapat membawa PM2.5 dari wilayah terbakar menuju permukiman. Asap berpotensi terbawa menuju sejumlah wilayah, termasuk Banjarbaru, Banjarmasin, dan Liang Anggang.

BMKG memantau konsentrasi PM2.5 menggunakan alat Beta Attenuation Monitoring atau BAM selama 24 jam. Agus menyebut konsentrasi rata-rata PM2.5 saat wawancara mencapai 18,3 mikrogram per meter kubik, dengan tertinggi 26,5.

“Angka saat ini masih dalam ambang aman, dengan rata-rata 18,3 mikrogram dan tertinggi 26,5 mikrogram," kata Agus. "Kondisi tersebut masih tergolong sedang sehingga masyarakat tetap perlu memantau kualitas udara.”

Agus mengatakan hujan dapat membantu membersihkan polutan dari udara, sedangkan OMC membutuhkan awan sebagai syarat utama. Karena itu, operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan sekadar untuk menghilangkan asap tanpa kondisi atmosfer yang mendukung.

BMKG menilai cuaca dan iklim yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan, juga menjadi pemicu yang perlu diwaspadai.

Wilayah Tanah Laut mendapat perhatian karena kondisi kekeringannya dinilai sangat kering dan telah mendapat peringatan dini. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi puncak kemarau yang diperkirakan berlangsung September.

“Masyarakat perlu menjaga kesehatan, menghemat air, dan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada pagi hari," ucapnya. "Gunakan masker N95 ketika kualitas udara memburuk serta ikuti informasi resmi melalui aplikasi Info BMKG.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....