Anang Syahrani: Madihin "Sumbangan Mulud:
- 26 Agt 2026 06:23 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Seni bisa menjadi salah satu media menyampaikan banyak persoalan, termasuk kritik, kesadaran sosial sekaligus pesan sosial dan keagamaan. Hal tersebut disampaikan oleh H. Anang Syahrani dalam acara Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah, Selasa, 25 Agustus 2026 di RRI Pro.4 Banjarmasin.
"Momen bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw di Kalimantan Selatan diperingati meriah di berbagai tempat penuh kebersamaan, gotong royong dan berbagi," kata Anang Syahrani
Begitupun dalam cerita “Sumbangan Mulud”, H. Anang Syahrani mengemasnya melalui seni Madihin, Syair dan Bakisah dengan tokoh utama si Palui. “Ringan tapi menghibur, Palui salah satu ikon yang bisa masuk dalam berbagai situasi. Beragam ceritanya mengandung pesan moral,” ujarnya
H. Anang Syahrani mengatakan tradisi Maulid di Nusantara mendapat pengaruh dari berbagai budaya. Turki merupakan salah satunya, yakni melalui tradisi menyalakan lampu sebagai simbol cahaya. Sosok Nabi Muhammad Saw diyakini menjadi suri teladan bagi umat muslim. Lalu Persia dengan syair, dan India yang juga ikut memberi pengaruh berupa tarian.
Ia menambahkan, dalam perkembangannya yakni sekitar abad ke-18, masyarakat Banjar juga dikenal memiliki tradisi basyair, seperti Maulid syarafat al Anam, al Barzanji maupun Burdah. Melalui tradisi itulah kemudian menjadi bagian dari ekspresi masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Maestro Madihin Kalimantan Selatan itu juga menjelaskan jika dalam seni bakisah, cerita Palui 'Sumbangan Mulud' adalah saat si Palui meminta sumbangan untuk “mulud”, namun amanat tersebut justru ditafsirkan berbeda oleh masyarakat yang kemudian secara sukarela memberikan sejumlah sumbangan. Dengan kecerdikannya, Palui pandai memanfaatkan kesempatan namun yang dilakukannya berdampak kurang baik apalagi menyangkut kepentingan bersama.
Selain Bakisah, Anang Syahrani juga mengungkapkan cerita Palui dalam Syair. Termasuk kisah Palui ketika meminta sumbangan kepada warga sebelum panitia Maulid melakukannya, sehingga sumbangan berupa beras, uang dan berbagai pemberian warga dibawa Palui pulang ke kampung halaman. “Bagi Palui Sumbangan Mulud itu adalah mulud yakni untuk mulutnya, bukan untuk acara Mulud atau Maulid Nabi" ujar Anang Syahrani
Cerita 'Sumbangan Mulud' kemudian ditutup dengan seni Madihin diiringi tepukan khas gendang sang Maestro Madihin. Selain sebagai hiburan, cerita yang disampaikan juga memiliki pesan moral sekaligus menjadi sarana dakwah maupun kritik sosial. "Dari kisah ini kita belajar jangan menyalahi mandat atau amanat yang telah diberikan, agar orang lain tidak hilang kepercayaan dan dirugikan oleh ulah kita,"ujar Anang Syahrani
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....