Suster Sensiana Ajak Umat Hidupi Kemerdekaan dengan Kejujuran dan Lawan Korupsi
- 13 Agt 2026 07:30 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Suster Sensiana SCMM dari Tim Pewartaan Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran mengajak umat Katolik memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam. Tidak hanya sebagai kebebasan bangsa dari penjajahan, tetapi juga sebagai kebebasan untuk memilih kebenaran dan hidup dalam kejujuran.
Pesan tersebut disampaikan Suster Sensiana dalam program Mimbar Agama Katolik RRI Pro 1 Banjarmasin dengan tema “Merdeka dalam Kejujuran, Berkobar Melawan Korupsi.” Menurutnya, seseorang dapat hidup di negara yang telah merdeka, tetapi belum tentu benar-benar merdeka dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan berbohong, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga budaya korupsi. Hal ini dapat menjadi bentuk perbudakan yang menghalangi seseorang untuk hidup secara bebas dan bertanggung jawab.
Suster Sensiana menjelaskan, dalam pandangan Gereja Katolik, kebebasan selalu berkaitan dengan tanggung jawab. Kemerdekaan sejati bukan berarti bebas melakukan apa saja yang diinginkan, melainkan mampu memilih sesuatu yang benar dan baik, meskipun pilihan tersebut terkadang tidak memberikan keuntungan bagi diri sendiri.
Ia mencontohkan, ketika seseorang menemukan barang atau uang yang bukan miliknya, ia memiliki pilihan untuk mengambilnya atau mengembalikannya. Situasi sederhana tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana kejujuran dan kemerdekaan moral seseorang diuji.
Suster Sensiana juga menekankan bahwa korupsi tidak hanya merupakan persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan sosial. Korupsi dapat merampas hak masyarakat karena sumber daya yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan pelayanan publik justru digunakan untuk kepentingan pribadi. Karena itu, perjuangan melawan korupsi menurutnya harus dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat diajak untuk membiasakan diri berkata dan bertindak jujur, tidak memanipulasi data, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Serta berani menolak pemberian atau praktik yang dapat memengaruhi keputusan.
Gereja Katolik, lanjutnya, juga memiliki peran dalam membangun budaya antikorupsi melalui keluarga, sekolah, komunitas umat, lingkungan kerja, dan kehidupan bermasyarakat. Pendidikan kejujuran perlu ditanamkan sejak dini, termasuk dengan memberikan teladan nyata kepada anak-anak dan generasi muda.
Suster Sensiana mengingatkan, keberanian moral sangat dibutuhkan karena orang yang memilih jujur terkadang justru dianggap mempersulit keadaan atau bahkan mendapat tekanan dari lingkungan. Ia mengajak umat untuk tidak berpikir bahwa kejujuran baru perlu dilakukan ketika semua orang sudah berubah.
Sebaliknya, perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian berkembang dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas, serta masyarakat. Menurutnya, terdapat tiga pesan utama yang dapat dihidupi dalam tema tersebut, yakni jujur, berani, dan peduli.
Jujur menjadi dasar integritas, berani diperlukan untuk mengatakan tidak terhadap tindakan yang salah. Sedangkan kepedulian dibutuhkan karena dampak korupsi dapat merugikan banyak orang dan menghambat kesejahteraan bersama.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dengan kejujuran,” ujarnya.
Suster Sensiana berharap semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan berbagai kegiatan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap jujur, berintegritas, bertanggung jawab. Serta berani menolak praktik korupsi demi terciptanya masyarakat yang adil, bermartabat, dan sejahtera.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....