Kekhusyukan Salat Kunci Utama Menyucikan Jiwa

  • 01 Agt 2026 12:52 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Salat yang berkualitas memerlukan penyelarasan antara lisan, pikiran, dan hati untuk mencapai puncak nilai ibadah dengan kekhusyukan sejati.
  • Ustadz Muhammad Zainal Abidin menekankan bahwa salat yang dikerjakan dengan benar merupakan fondasi terpenting dalam proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
  • Banyak umat Islam menjalankan ibadah salat hanya sebagai penggugur kewajiban formal tanpa adanya penghayatan mendalam dan penyucian spiritual terhadap berbagai penyakit kebinasaan.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pelaksanaan salat harian kerap terjebak pada rutinitas gerakan tanpa menghadirkan kedalaman makna spiritual. Padahal, kekhusyukan dalam salat menjadi kunci utama untuk menyucikan jiwa sekaligus membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah Swt.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin, M.Ag., dalam program Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa, 28 Juli 2026. Menurutnya, salat yang dikerjakan dengan benar merupakan fondasi terpenting dalam proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Ia menjelaskan bahwa kekhusyukan tidak dapat diraih secara instan, tetapi memerlukan latihan jiwa (riyadatun nafs). Seseorang harus mampu menyelaraskan bacaan lisan, pemahaman akal, dan penghayatan hati ketika menghadap Allah Swt.

"Kekhusyukan menghendaki keselarasan penuh. Yakni antara bacaan lisan, pemahaman akal, dan peresapan hati," ujar Ustaz Zainal.

Menurutnya, salah satu penyebab seseorang sulit khusyuk ialah belum memahami makna bacaan salat. Akibatnya, pikiran mudah teralihkan oleh berbagai urusan dunia sehingga ibadah kehilangan makna dan kedalaman spiritual.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran muraqabah, yaitu keyakinan bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi setiap hamba-Nya. Kesadaran tersebut akan melahirkan sikap ihsan, kerendahan hati, serta mendorong seseorang untuk menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ustaz Zainal mengatakan bahwa salat yang khusyuk akan membentuk pribadi yang tenang, bersyukur, dan memberi dampak positif bagi keluarga maupun lingkungan sosial. Menurutnya, kualitas ibadah lebih utama daripada sekadar banyaknya ibadah yang dilakukan tanpa penghayatan.

Ia mengimbau masyarakat untuk terus memperbaiki kualitas salat melalui pemahaman, penghayatan, dan latihan spiritual secara berkelanjutan. Dengan demikian, salat tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga sarana membersihkan jiwa dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....