Bulan Safar dalam Islam, antara Mitos dan Tuntunan

  • 23 Jul 2026 13:29 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Umat Islam diminta meninggalkan berbagai mitos yang tidak memiliki dasar dalam ajaran agama dan berpegang teguh pada Al-Qur'an serta Sunnah. Salah satu mitos yang masih berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan pembawa kesialan.

Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd., dalam Program Kuliah Subuh RRI Pro 1 Banjarmasin, Kamis, 23 Juli 2026. Program tersebut mengangkat tema "Bulan Safar: Mitos dan Tuntunan Islam."

Nuril Huda menjelaskan anggapan Safar sebagai bulan sial berasal dari tradisi Arab Jahiliah. Hingga kini, sebagian masyarakat masih menunda pernikahan, bepergian, memulai usaha, maupun membangun rumah karena mempercayai mitos tersebut.

"Dalam Islam, Safar hanyalah nama sebuah bulan sebagaimana bulan-bulan lainnya," ujar Nuril Huda. "Tidak ada dalil yang menyatakan Safar merupakan bulan sial ataupun pembawa musibah."

Ia mengutip Surah Al-Hadid ayat 22 yang menegaskan setiap musibah telah ditetapkan Allah Swt sebelum terjadi. Ayat tersebut menunjukkan bahwa sakit, kematian, rezeki, maupun musibah merupakan ketetapan Allah Swt dan tidak berkaitan dengan bulan tertentu.

Menurutnya, umat Islam tidak perlu takut menjalankan aktivitas yang baik pada bulan Safar. Bepergian, menikah, membangun rumah, maupun memulai usaha tetap diperbolehkan selama sesuai dengan tuntunan syariat.

"Karena itu, umat Islam tidak perlu takut beraktivitas pada bulan Safar," katanya. "Bepergian, menikah, membangun rumah, maupun memulai usaha tetap diperbolehkan selama sesuai syariat."

Nuril Huda juga mengutip hadis Rasulullah saw, riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menegaskan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Hadis tersebut sekaligus meluruskan keyakinan masyarakat Arab Jahiliah yang mengaitkan musibah dengan waktu atau bulan tertentu.

Ia menambahkan Islam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Swt. Kepercayaan terhadap mitos justru dapat melemahkan akidah dan mengurangi kesempurnaan tawakal seorang muslim.

Nuril Huda mengajak masyarakat memperkuat pemahaman agama berdasarkan dalil yang sahih. Dengan demikian, umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....