Wabup Batola Dorong Adanya Desa Wisata Suku Bakumpai untuk Melestarikan Budaya
- 23 Jul 2026 00:11 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Marabahan - Pemerintah Kabupaten Barito Kuala melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporbudpar) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin menggelar Dialog Jejak Budaya Panji. Kegiatan mengusung tema “Jejak Panji di Tanah Banjar” dengan subtema “Budaya Panji Sei Getas Hari Ini dan Masa Depannya” di Aula Selidah Marabahan, Selasa, 21 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Barito Kuala, H. Herman Susilo, yang memberikan apresiasi atas sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan kementerian pusat. Menurutnya, dialog budaya menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman dan ingatan kolektif masyarakat terhadap keberagaman seni serta tradisi lokal.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan peninggalan masa lalu yang hanya kita pamerkan di museum atau dipentaskan dalam perayaan seremonial semata. Budaya adalah identitas, karakter, dan benteng moral bangsa. Semoga kegiatan ini semakin membuka wawasan kita dalam menjaga ragam seni budaya tradisional yang mulai tergerus zaman,” ujar Wabup.
Herman secara khusus menyoroti keberadaan Suku Bakumpai sebagai salah satu kekayaan budaya Barito Kuala. Ia menilai, penuturan bahasa daerah dan adat tradisi Bakumpai kini menghadapi tantangan modernisasi, terutama di kalangan generasi muda.
Untuk mencegah semakin tergerusnya identitas lokal, Wabup mengusulkan pembangunan kawasan destinasi khusus berupa Desa Wisata Suku Bakumpai. Ia juga mendorong pengembangan museum daerah sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
“Saya menginginkan adanya Desa Wisata Suku Bakumpai yang hidup, dimana setiap minggunya ada atraksi tarian, masakan khas, souvenir, permainan tradisional, hingga arsitektur rumah adat Bakumpai. Kami sudah mulai menjembatani aspirasi ini saat bertemu dengan Menteri Pariwisata, Bapak Fadli Zon, agar Barito Kuala bisa memiliki desa wisata berkarakter kuat,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Setia Budhi, menjelaskan kegiatan kebudayaan tersebut memperoleh persetujuan hibah dari Kementerian Kebudayaan RI sejak 2025 dan direalisasikan sepanjang 2026. Dialog tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri dari perwakilan instansi provinsi, guru pendamping, siswa SMP se-Kabupaten Barito Kuala, praktisi seni, serta komunitas Itah Uluh Bakumpai.
“Kegiatan hari ini merupakan rangkaian kedua setelah dilaksanakannya sosialisasi. Melalui dialog ini, kami mempertemukan para pemangku kepentingan dan narasumber untuk merumuskan langkah strategis pengembangan Budaya Panji di Kalimantan Selatan, khususnya di Barito Kuala,” ujar Dr. Setia Budhi.
Ia menyampaikan, puncak rangkaian Fasilitasi Kementerian Kebudayaan direncanakan berlangsung pada September mendatang. Kegiatan tersebut akan mempertemukan tiga titik pusat Kebudayaan Panji di Kalimantan Selatan, yakni Hulu Sungai Tengah, Banjar dan Kota Banjarmasin, serta Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala sebagai tuan rumah.
Dialog Jejak Budaya Panji turut dimeriahkan dengan penampilan Tari Topeng dari Papikat Sei Getas. Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah daerah, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Serikat Pemersatu Seniman Indonesia (SPSI) Korwil Kalsel, Balai Pelestarian Kebudayaan Kalsel, akademisi FISIP ULM, serta pegiat seni dan budaya.
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala berharap dialog budaya tersebut dapat menghasilkan gagasan strategis dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal. Penguatan budaya diharapkan tidak hanya menjadi upaya pelestarian, tetapi juga mampu membuka ruang edukasi dan pengembangan potensi wisata berbasis masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....