Gerbang ‘Maut’ Batas Kota Banjarmasin Ancam Keselamatan, DPRD Desak Evaluasi Total

  • 01 Jul 2026 14:12 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kerusakan pada gerbang batas Kota Banjarmasin di Jalan Ahmad Yani kilometer 6 menjadi sorotan serius. Bukan sekadar merusak pemandangan, keramik yang mulai terlepas dari bangunan itu dinilai berpotensi mengancam keselamatan ribuan warga yang setiap hari melintas di jalur utama tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Ridho Akbar, mendesak Pemerintah Kota Banjarmasin agar tidak menunda penanganan. Menurutnya, kondisi bangunan yang terus mengalami kerusakan harus segera diamankan sebelum memakan korban.

"Kami meminta agar dilakukan langkah cepat untuk mengamankan area tersebut, sekaligus mempercepat proses perbaikan. Jangan sampai kita menunggu adanya korban baru kemudian bertindak. Keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama," kata Ridho, Rabu, 01 Juli 2026.

Ia menilai, fasilitas publik yang berpotensi membahayakan masyarakat tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa tindakan nyata. Terlebih, lokasi gerbang berada di salah satu akses utama keluar-masuk Kota Banjarmasin dengan intensitas lalu lintas yang tinggi.

Menurut Ridho, ancaman material bangunan yang sewaktu-waktu bisa jatuh bukan persoalan sepele. Pemerintah diminta bergerak cepat melakukan pengamanan sementara sembari mempercepat proses rehabilitasi secara menyeluruh.

Tak hanya menyangkut faktor keselamatan, Ridho juga mengingatkan bahwa gerbang batas kota merupakan wajah pertama yang dilihat masyarakat maupun tamu yang memasuki Kota Banjarmasin. Kondisi bangunan yang rusak dinilai mencoreng citra ibu kota Kalimantan Selatan tersebut.

"Gerbang batas kota adalah salah satu ikon sekaligus wajah Banjarmasin. Kalau kondisinya rusak, tentu memberikan kesan yang kurang baik bagi siapa pun yang datang ke kota ini," ujarnya.

Komisi III DPRD, lanjut Ridho, mendukung langkah Pemerintah Kota apabila perbaikan dilakukan melalui anggaran pemeliharaan yang tersedia. Namun ia mengingatkan agar pekerjaan tidak hanya bersifat tambal sulam, melainkan dibarengi evaluasi menyeluruh terhadap kualitas konstruksi dan sistem pemeliharaannya.

"Kami tidak hanya mendorong perbaikan fisik, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap konstruksi dan pemeliharaannya. Dengan demikian, bangunan yang menjadi ikon kota ini dapat lebih aman, lebih representatif, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat," ucapnya.

Ridho berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan sebelum kerusakan semakin parah. Ia menegaskan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar, sekaligus menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga fasilitas publik dan citra Kota Banjarmasin.

"Jangan sampai peringatan ini baru dianggap penting setelah terjadi musibah. Pencegahan selalu jauh lebih baik daripada penyesalan," ujarnya, mengakhiri.

Sebelumnya, gerbang pintu masuk Kota Banjarmasin di jalan Ahmad Yani Kilometer 6 yang semestinya menjadi ikon, berubah menjadi ancaman keselamatan. Sejumlah keramik gerbang di bagian atas maupun bawah bangunan terlepas dan jatuh sewaktu-waktu.

Kerusakan tersebut menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan maupun warga yang setiap hari beraktivitas di sekitar gerbang. Termasuk para tukang ojek yang sehari-harinya mangkal menunggu penumpang.

Selain rusak, tiang-tiang bangunan dipenuhi coretan vandalisme. Sementara area di bawah gerbang kerap dijadikan tempat berkumpul hingga lokasi orang tidur, sehingga mengurangi citra salah satu pintu masuk utama Kota Seribu Sungai.

Seorang tukang ojek yang mangkal di lokasi, Zainuddin, mengaku sudah bertahun-tahun menyaksikan kondisi gerbang semakin rusak tanpa adanya perbaikan yang berarti. Ia mengaku setiap hari dihantui rasa khawatir saat mencari nafkah.

"Ini membahayakan. Keramiknya sudah banyak yang lepas. Kalau jatuh bisa mengenai orang yang lewat maupun kami yang mangkal di sini," ujarnya.

Menurut Zainuddin, kerusakan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Ia berharap pemerintah segera bertindak sebelum kerusakan tersebut memakan korban.

"Kurang lebih sudah dua sampai tiga tahun rusaknya dan sampai sekarang belum juga diperbaiki. Kami setiap hari waswas karena mencari nafkah di sini," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....