BMKG Imbau Warga Kalsel Waspada Kemarau Kering akibat El Nino
- 26 Jun 2026 06:33 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Stasiun Meteorologi Gusti Syamsir Alam Kotabaru mengimbau masyarakat Kalimantan Selatan meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026. Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering akibat kombinasi pengaruh angin monsun Australia dan fenomena El Nino.
Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Hal tersebut disampaikan Pengamat Meteorologi dan Geofisika Pertama BMKG Kotabaru, Ismah Atikah Khairunnisa, S.Tr.Met., dalam siaran "Kentongan" RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa, 23 Juni 2026. Menurutnya, angin monsun Australia menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan berkurangnya potensi hujan di Kalimantan Selatan.
“Kondisi tersebut berdampak langsung pada berkurangnya tutupan awan hujan di wilayah Kalimantan Selatan. Akibatnya, potensi terjadinya hujan juga menjadi semakin berkurang,” ujar Ismah.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Ismah mengatakan peluang terjadinya El Nino dengan kategori moderat mencapai 98 persen sehingga berpotensi menurunkan curah hujan selama musim kemarau.
“Dampak fenomena global ini diperkirakan akan menurunkan intensitas curah hujan. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung sepanjang periode kemarau,” katanya.
BMKG mencatat sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan telah memasuki kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) tingkat menengah. Beberapa di antaranya meliputi Sungai Pinang, Kelumpang, dan Alalak yang mengalami kondisi tanpa hujan selama 11 hingga 20 hari.
Menurut Ismah, curah hujan pada Juli hingga September diprediksi berada di bawah normal dibandingkan kondisi rata-rata tahunan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, terutama di kawasan yang didominasi lahan gambut.
Ia menjelaskan bahwa lahan gambut memiliki karakteristik mudah terbakar meskipun permukaannya tampak basah setelah hujan. Bagian dalam gambut dapat tetap kering sehingga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan pemantauan satelit BMKG, saat ini telah terdeteksi sekitar 29 titik panas kategori sedang di Kalimantan Selatan. Temuan tersebut menjadi sinyal awal yang perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi kebakaran.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih selama musim kemarau serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membuka lahan dengan cara membakar. Informasi cuaca dan perkembangan titik panas dapat dipantau melalui aplikasi Info BMKG.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....