Haji Mabrur Harus Tercermin dari Perubahan Sikap dan Kepedulian Sosial

  • 23 Jun 2026 07:32 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kepulangan jemaah haji ke tanah air selalu disambut dengan rasa syukur dan harapan akan perubahan perilaku yang lebih baik. Namun, di tengah masyarakat masih ditemukan fenomena oknum bergelar haji yang justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam siaran Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Minggu, 21 Juni 2026, bersama Ustaz Mujiburrahman, M.A. Menurutnya, ibadah haji seharusnya membawa perubahan pada sikap dan kepribadian seseorang.

Ia menegaskan bahwa apabila setelah berhaji seseorang masih melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Hal tersebut menjadi tanda bahwa ibadah yang dijalankan belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap kondisi kejiwaannya.

“Ini berarti indikator bahwa secara psikologis dan kejiwaan, ibadah tersebut tidak memberikan efek perubahan yang nyata,” ujar Ustaz Mujiburrahman. “Padahal, haji yang mabrur seharusnya mampu membentuk pribadi yang lebih baik.”

Ia menjelaskan bahwa sejak zaman Rasulullah saw. telah ada orang yang melaksanakan ibadah haji dengan niat yang tidak sepenuhnya lurus. Ada yang menjadikan perjalanan haji sekaligus sebagai sarana mencari keuntungan duniawi sehingga nilai spiritual ibadah menjadi berkurang.

Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya diukur dari kesempurnaan rangkaian ibadah, tetapi juga dari perubahan perilaku setelah kembali ke tengah masyarakat. Semakin besar manfaat yang diberikan kepada sesama, semakin terlihat pula kualitas ibadah yang telah dijalankan.

Ustaz Mujiburrahman juga menyoroti fenomena masyarakat yang berulang kali menunaikan ibadah umrah, tetapi belum melaksanakan kurban. Ia menilai, ibadah kurban memiliki dampak sosial yang sangat besar karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.

Menurutnya, haji, umrah, dan kurban merupakan rangkaian ibadah yang memiliki keterkaitan erat dalam sejarah perjuangan Nabi Ibrahim as Karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan finansial sebaiknya tidak mengabaikan ibadah kurban hanya karena lebih memilih melaksanakan umrah berulang kali.

“Ibadah haji dan umrah yang mabrur semestinya melahirkan pribadi yang gemar menolong dan memiliki empati tinggi. Esensi ibadah tidak hanya tercermin dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Ustaz Mujiburrahman menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ibadah dapat dilihat dari kepedulian sosial seseorang. Semakin tinggi rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, maka semakin besar pula peluang seseorang meraih predikat haji yang mabrur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....