Memasuki 1448 Hijriah, Saatnya Evaluasi Bekal menuju Akhirat
- 18 Jun 2026 06:35 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Memasuki tahun baru 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri secara mendalam. Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Muhammad Rifat dalam program Tabligh Udara di RRI PRO 1 Banjarmasin, Selasa 16 Juni 2026. Beliau menegaskan bahwa pergantian tahun seharusnya memicu kesadaran baru mengenai hakikat berkurangnya jatah usia manusia.
Menurut Ustaz Rifat, bertambahnya angka kalender berbanding lurus dengan semakin menipisnya sisa napas di dunia. Setiap detik yang terlewati merupakan langkah kaki yang membawa manusia semakin dekat menuju liang lahat. Oleh karena itu, ia mengajak pendengar untuk jujur menilai ketebalan investasi pahala masing-masing.
Ustaz Rifat menyayangkan realitas masyarakat yang kerap terjebak dalam kesibukan mengejar kemegahan duniawi. Manusia sering kali rela menghabiskan energi demi membangun rumah mewah atau menumpuk jabatan temporal. Padahal, modal waktu dua puluh empat jam sehari seharusnya dimanfaatkan seimbang untuk akhirat.
Ustaz Rifat juga menyoroti fenomena penggunaan gawai yang sering melalaikan umat dari aktivitas ibadah. Banyak waktu berharga menguap begitu saja hanya untuk aktivitas scrolling media sosial tanpa arah. Otak yang terus menerima dopamin instan dari gawai membuat seseorang malas melakukan ibadah dengan tenang.
"Rasa malas beribadah adalah hal manusiawi yang sering terjadi. Kondisi tersebut biasanya bersumber dari tumpukan dosa masa lalu, oleh karena itu segera lakukan Tobat. Mulai menyempurnakan wudhu sebagai awal permulaan pensucian diri sebelum menghadap sang khaliq," ujar Ustaz rifat.
Sebagai solusi, beliau juga menyarankan agar umat mulai membangun konsistensi ibadah lewat langkah-langkah kecil. Salah satu contohnya adalah dengan merutinkan ibadah sunah romantis seperti melaksanakan salat duha. Allah Subhanahu wa taala telah menjanjikan kecukupan rezeki bagi hamba yang mau bersujud di pagi hari.
Ia menambahkan bahwa konsistensi atau istikamah jauh lebih bernilai daripada ibadah besar yang musiman. Karakter beribadah yang menggebu-gebu di awal namun cepat surut harus segera dievaluasi total. Misal membaca Al-Qur'an secara bertahap setiap hari dinilai lebih efektif membentuk kedekatan spiritual yang kokoh. Atau melaksanakan salat duha menjadi salah satu contoh amalan yang direkomendasikan.
"Memulai perbaikan diri dari langkah paling kecil yang bisa di lakukan, hal terpenting adalah menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah sunah," ucapnya.
ditegaskannya bahwa tahun baru hijriah ini adalah gerbang menuju kesadaran baru. Mari kita buang lembaran hitam dan buka lembaran putih. Peningkatan ketaatan merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat kelak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....