Memahami Perbedaan Lupa dan Kelalaian dalam Islam
- 09 Jun 2026 14:48 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Sifat lupa merupakan bagian dari fitrah manusia yang telah ditetapkan Allah Swt. Dalam acara Hikmah Subuh di RRI Pro4 Banjarmasin, Selasa, 9 Juni 2026, Ustaz Zulfakar Ali, Lc., menjelaskan bahwa Islam membedakan antara an-nisyan atau lupa yang terjadi secara alami dan ghaflah atau kelalaian yang membuat seseorang melupakan Allah serta kehidupan akhirat.
Menurutnya, lupa yang bersifat manusiawi tidak termasuk perbuatan dosa. Contohnya adalah lupa jumlah rakaat salat atau lupa bahwa seseorang sedang berpuasa.
Ustaz Zulfakar menjelaskan bahwa Allah Swt memberikan keringanan terhadap kondisi tersebut karena merupakan bagian dari keterbatasan manusia. Karena itu, seseorang tidak dibebani hukuman atas sesuatu yang terjadi di luar kesengajaan.
Sebaliknya, ghaflah atau kelalaian merupakan sikap yang tercela dalam pandangan Islam. Kondisi ini muncul ketika seseorang terlalu mencintai dunia, terjerumus dalam kemaksiatan, dan mengikuti godaan setan hingga melupakan kewajibannya kepada Allah.
Meski demikian, sifat lupa juga memiliki hikmah dalam kehidupan manusia. Di antaranya menjadi penawar kesedihan, melatih kerendahan hati, serta mengingatkan pentingnya saling menasihati dalam kebaikan.
Ia juga mengingatkan bahwa untuk menghindari kelalaian, Islam menganjurkan umatnya memperbanyak zikir dan istigfar serta menjaga salat tepat waktu. Selain itu, mencatat hal-hal penting dan memanjatkan doa juga menjadi ikhtiar agar terhindar dari sifat lupa yang merugikan.
Dengan demikian, lupa sebagai keterbatasan manusia merupakan hal yang dimaafkan oleh Allah Swt. Namun, melupakan Allah Swt dan kewajiban agama adalah bahaya yang harus dihindari dengan memperkuat iman, ilmu, dan amal saleh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....