Akademisi UIN Antasari Minta Hentikan Stigma pada Anak Hiperaktif
- 07 Jun 2026 05:33 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - UIN Antasari Banjarmasin, Lisya Ramitha Putri, mengajak masyarakat menghentikan stigma terhadap anak hiperaktif. Ajakan tersebut disampaikannya dalam Program Disabilitas dan Inklusi RRI Pro 1 Banjarmasin, Sabtu, 6 Juni 2026.
Lisya menjelaskan anak hiperaktif sering kali mendapat label negatif karena perilakunya dianggap mengganggu lingkungan sekitar. Padahal, kondisi tersebut berkaitan dengan cara kerja otak yang berbeda dan bukan disebabkan kemauan anak.
Menurutnya, pelabelan seperti nakal, sulit diatur, atau pembuat masalah dapat berdampak pada perkembangan psikologis anak. Stigma tersebut juga berpotensi menurunkan rasa percaya diri dan membuat mereka kesulitan bergaul.
| Baca juga: Rahasia Bahagia Berawal dari Tiga Hal |
"Anak hiperaktif bukan anak yang sengaja berbuat salah," ujarnya. "Mereka mengalami kesulitan mengendalikan dorongan untuk bertindak secara spontan."
Ia mengatakan setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dalam proses tumbuh kembangnya. Karena itu, anak hiperaktif memerlukan penerimaan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Lisya menambahkan anak hiperaktif sering mengalami kesulitan mengelola emosi dan perilakunya. Kondisi tersebut dapat semakin sulit dihadapi apabila lingkungan tidak memberikan dukungan yang memadai.
Menurutnya, keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang menerima perbedaan setiap anak. Pendekatan yang penuh pemahaman akan membantu mereka berkembang secara optimal.
"Anak hiperaktif membutuhkan lingkungan yang memahami kebutuhannya. Dukungan keluarga dan sekolah sangat membantu perkembangan mereka," katanya.
Ia mengajak masyarakat memperbanyak literasi mengenai kesehatan mental dan tumbuh kembang anak. Dengan demikian, anak hiperaktif dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, bersosialisasi, dan meraih prestasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....