Kontrak Belum Tuntas, Lahan Masih Didata, Proyek Jembatan Jafri Zam Zam Molor?
- 02 Jun 2026 14:38 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Rencana pembangunan jembatan pengganti di kawasan Jalan Jafri Zam Zam, Kota Banjarmasin, dipastikan mengalami keterlambatan sekitar satu bulan dari jadwal. Proyek strategis bernilai Rp14 miliar itu pun baru akan memasuki tahap pekerjaan fisik pada pertengahan Juni 2026.
Keterlambatan tersebut memunculkan pertanyaan publik, mengingat jembatan yang menjadi salah satu akses penting warga itu sudah lama dinanti. Namun, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin berdalih molornya proyek terjadi akibat penyesuaian harga dan revisi administrasi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Chandra Iriandi Wijaya, mengakui adanya keterlambatan dalam proses pelaksanaan proyek tersebut. “Memang ada keterlambatan sekitar satu bulan karena kami harus menyesuaikan harga dengan kondisi riil. Selain itu ada beberapa revisi administrasi yang perlu diselesaikan,” kata Chandra, Selasa, 2 Juni 2026.
Meski demikian, Chandra memastikan keterlambatan itu tidak akan mengganggu target penyelesaian proyek yang direncanakan rampung pada akhir tahun 2026. Menurutnya, proses kontrak pekerjaan ditargetkan sudah bisa diteken pada awal Juni ini. Setelah kontrak efektif, pembangunan fisik akan langsung dimulai.
“Semoga awal Juni ini sudah kontrak. Kalau kontraknya berjalan sesuai jadwal, maka pembangunan fisik dimulai sekitar pertengahan Juni,” katanya.
Pemerintah Kota Banjarmasin sendiri telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp14 miliar untuk membangun jembatan baru yang akan berdiri di sisi jembatan lama. Langkah ini dilakukan agar akses masyarakat tetap bisa digunakan selama proses pembangunan berlangsung.
Menariknya, lokasi pembangunan sengaja digeser dari posisi jembatan eksisting untuk menghindari dampak terhadap area masjid yang berada di sekitar lokasi. Oprit jembatan baru dirancang agar tidak mengganggu aktivitas keagamaan warga.
“Pagunya sekitar Rp14 miliar. Untuk konstruksinya direncanakan menggunakan baja seperti jembatan-jembatan yang sudah ada,” ucap Chandra.
Desain jembatan tersebut disebut akan mengadopsi konsep yang mirip dengan Jembatan Rawa Sari, dengan struktur utama menggunakan material baja yang dinilai lebih kuat dan efisien dalam proses pembangunan. Namun demikian, persoalan pembebasan lahan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
“Dinas PUPR masih melakukan pendataan terhadap jumlah persil dan bangunan yang terdampak pembangunan proyek tersebut. Kalau rumah yang terdampak sepertinya tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....