DJPb Kalsel Sebut Perekonomian Regional Tetap Tumbuh Stabil dan Resilien
- 29 Mei 2026 11:12 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perekonomian Kalimantan Selatan terus menunjukkan resiliensi yang kuat memasuki awal kuartal II tahun 2026. Berbagai indikator ekonomi dan perdagangan luar negeri tercatat masih bergerak positif di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. Jumat 29 Mei 2026.
Kepala DJPb Kalimantan Selatan, Catur Arianto Widodo, menyampaikan Neraca Perdagangan Kalsel pada April 2026 kembali mencatatkan surplus signifikan US$805,95 juta. Capaian ini memperlihatkan kinerja perdagangan luar negri daerah yang tetap impresif dan berdaya tahan.
“Surplus perdagangan mengalami kontraksi sebesar 2,29 % secara tahunan dan 13,46 % secara bulanan. Kondisi ini dipengaruhi oleh pertumbuhan nilai impor yang tercatat lebih tinggi dibandingkan peningkatan ekspor,” ujarnya.
Nilai ekspor Kalsel pada April 2026 US$1.059,10 juta atau tumbuh 15,1 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh naiknya volume ekspor komoditas batu bara yang menjadi penopang utama perdagangan daerah dengan kontribusi lebih dari 50%
Disamping itu, nilai impor juga mengalami peningkatan cukup tajam 46,06% secara tahunan menjadi US$253,15 juta. Kenaikan ini dipicu meningkatnya nilai impor komoditas minyak petroleum serta kenaikan harga transaksi BBM diesel.
Selain sektor perdagangan, perkembangan harga di Kalsel juga menunjukkan kondisi yang semakin terkendali. Inflasi tahunan pada April 2026 tercatat 3,67% dengan indeks Harga Konsumen berada di angka 112,75.
“Angka inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan melanjutkan tren positif pengendalian harga di daerah. Secara bulanan, Kalsel mengalami deflasi sebesar 0,04 %, berbeda dengan kondisi nasional yang masih mencatat inflasi 0,13 %,” katanya.
Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di Kalsel sebesar 3,96% secara tahunan. Sementara itu, Kabupaten Kotabaru mencatat inflasi terendah 2,90% tahun ke tahun.
Tekanan inflasi tahunan masih didominasi oleh komoditas emas perhiasan, beras dan ikan nila. Sedangkan secara bulanan, deflasi dipengaruhi penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan dan terong yang mampu menahan kenaikan harga angkutan udara dan beras.
“TPID Kalsel terus memperkuat sinergi dan strategi stabilisasi harga, Operasi Pasar dan Gerakan Pasar Murah telah menyalurkan beras SPHP sebanyak 3,69 ribu ton. Hal ini diperkuat dengan Gerakan Tanam Padi Serempak, optimasi lahan, bantuan distribusi bapokting, dan kerja sama antar daerah,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....