Ibadah Haji Jadi Identitas Sosial dan Budaya Urang Banjar

  • 18 Mei 2026 11:38 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Bagi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan atau yang dikenal dengan sebutan urang Banjar, ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual menuju Tanah Suci. Lebih dari itu, haji telah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disampaikan Iberahim, S.H., bersama Iin Al Mansor dan Muhammad Bulkani dalam program “Ragam Budaya” di Pro 4 RRI, Minggu, 17 Mei 2026.

Menurut Iberahim, gelar “Haji” di kalangan masyarakat Banjar memiliki makna yang sangat istimewa. Selain menjadi penanda telah menunaikan rukun Islam kelima, gelar tersebut juga dipandang sebagai simbol kehormatan, keteladanan, dan keberhasilan menjalani perjuangan spiritual.

“Panggilan atau gelar ‘Haji’ sangat melekat dalam masyarakat Banjar sebagai simbol kehormatan, keteladanan, sekaligus keberhasilan menjalani perjalanan spiritual,” ujarnya.

Menurutnya tradisi berhaji sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Banua sejak lama. Ada juga anggapan bahwa haji bukan hanya ibadah personal, tetapi juga kebanggaan keluarga.

Dimasa lalu, perjalanan haji dilakukan dengan resiko besar dan waktu lama hingga berbulan-bulan karena menggunakan kapal laut termasuk peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Colombo.

"Perjalanan ibadah yang tak mudah membuat masyarakat sangat menghormati mereka yang mampu pulang dengan selamat dari ibadah haji, makanya gelar haji di Banjar itu punya nilai sosial dan spiritual yang sangat tinggi,” ucap Iberahim

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Sementara itu Iin Al Mansor juga mengungkapkan jika identitas kehajian bagi masyarakat Banjar terlihat dalam budaya sehari-hari. Dari panggilan sosial hingga tradisi selamatan sebelum keberangkatan dan kedatangan dari Tanah Suci. Bahkan tidak sedikit keluarga yang mampu secara finansial juga menjadikan pelaksanaan ibadah haji untuk merubah perilaku yang kurang baik.

"Orang jadi 'cangkal bacari' atau rajin kerja dan nabung. Termasuk jika ada yang punya anak nakal, kurang taat beribadah dan lainnya, maka orang tuanya mengusahakan anak itu naik haji supaya perilakunya berubah," ujar Iin menjelaskan

Sedangkan M. Bulkani, seorang penulis novel 'Azimat' yang mengangkat kisah tragedi Colombo pada pelaksanaan haji tahun 1978 menilai bahwa tradisi naik haji 'urang Banjar' masih bertahan turun temurun. Bagi urang Banjar, semangat naik haji adalah menyempurnakan keislaman.

“Semangat urang Banjar untuk berhaji adalah bagian dari jati diri masyarakat, baik aspek religi maupun sosialnya,” ujar M. Bulkani

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....