Tingginya Angka Anak Tidak Sekolah Masih Jadi PR Dunia Pendidikan
- 10 Mei 2026 17:13 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan di Kalimantan Selatan. Berdasarkan data tahun 2025, jumlah anak yang tidak mengenyam pendidikan formal mencapai angka sekitar 61.000 anak.
Pengamat Pendidikan, Reja Pahlevi, menilai kondisi tersebut merupakan tantangan nyata bagi berbagai pihak. menegaskan perlunya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk meminimalkan angka tersebut secara berkala.
"Hal ini perlu jadi perhatian serius. Memang saat ini pemerintah daerah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meminimalkan angka tersebut," ujar Akademisi ULM tersebut.
Penguatan program kesetaraan melalui sekolah paket dinilai sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan partisipasi pendidikan. Namun, Reja mengingatkan bantuan finansial juga harus lebih masif diberikan agar faktor ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk belajar.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) juga menjadi sorotan karena aksesnya yang diharapkan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Faktanya, di lapangan masih banyak ditemukan anak usia dini yang tidak bersekolah karena keterbatasan finansial.
"Di Banjarmasin, banyak anak-anak usia PAUD yang tidak sekolah. Salah satu alasannya adalah faktor ekonomi," katanya menambahkan.
Sementara itu, Kota Banjarmasin sendiri dalam data pada tahun 2025 menyumbang sekitar 7.000 anak yang tidak mengenyam pendidikan. Namun, Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalsel menunjukkan kemungkinan jumlah anak tidak sekolah sekitar 3.000 anak.
Meski demikian, pemerintah kota tetap menggunakan angka konservatif 7.000 sebagai pijakan dalam mengambil keputusan. Hal ini turut mendorong lahirnya langkah strategis melalui program Berkat (Bersama Kita Atasi Anak Tidak Sekolah).
Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Ryan Utama, menyampaikan pada tahun 2026 ini pihaknya telah mengintervensi sebanyak 500 anak. Tiga kriteria yang menjadi prioritas adalah bekerja di usia sekolah, menikah di usia sekolah, dan faktor ekonomi.
"Kita sudah lakukan upaya melalui program Berkat ini. Langkah ini juga bekerja sama dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)," ucapnya.
Langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah kota untuk menekan ribuan angka anak tidak sekolah. Melalui program tersebut, pemerintah berharap dapat memutus mata rantai persoalan ATS yang kini masih menjadi tantangan besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....