Anang Syahrani: Etika Jual Beli dalam Kisah Palui
- 06 Mei 2026 10:50 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui seni tutur Madihin. Maestro Madihin Kalimantan Selatan, H. Anang Syahrani, menghadirkan pertunjukan sarat makna dalam program Madihin Syair Bakisah yang disiarkan di Pro 4 RRI, Selasa, 5 Mei 2026, sebagai bentuk komitmen menjaga eksistensi tradisi lisan Banjar di tengah arus modernisasi.
"Kisah Palui bertajuk “Palui Manukar Itik Tangah Hari” ini juga cerita yang memadukan antara Bakisah, Syair, hingga Madihin dalam satu alur cerita,"ujar Anang Syahrani
Ia mengawali dengan seni Bakisah, cerita Palui mengalir dalam bahasa Banjar. Bermula saat Palui berziarah ke Martapura, tepatnya ke makam para wali. Sepulang dari ziarah, ia membeli seekor itik tanpa menawar karena yakin ukuran itik tersebut besar. Namun setibanya di rumah, Palui terkejut karena itik yang dibeli ternyata tidak lengkap.
“Si Palui ini merasa sudah beli satu ekor itik utuh, tapi kenyataannya tidak sesuai, ini yang jadi konflik dalam cerita,” ucapnya menjelaskan
Merasa dirugikan, Palui gelisah sepanjang malam hingga keesokan harinya ia mendatangi penjual itik bernama H. Idap. Penjual itu berdalih bahwa Palui membeli itik di siang hari, sehingga kaki itik tampak tersembunyi ke dalam dan tidak terlihat. Anang Syahrani menyampaikan dalam ceritanya, termasuk pada seni Syair dan Madihin bahwa Palui yang biasanya dikenal selalu menang dalam beradu kata justru harus menerima kekalahan.
“Dari cerita Palui kali ini ada pesan baik buat kita semua, yakni kejujuran dalam berdagang itu penting. Demikian juga ketelitian dalam bertransaksi, termasuk akad yang jelas antara penjual dan pembeli,” tutup Anang Syahrani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....